PALANGKA RAYA, — Kinerja ekspor Provinsi Kalimantan Tengah pada awal 2026 mengalami penurunan. Kondisi ini kembali menegaskan bahwa struktur ekonomi daerah masih sangat bergantung pada komoditas primer, terutama batu bara dan minyak kelapa sawit.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Kalimantan Tengah pada Januari–Februari 2026 sebesar 558,03 juta dollar AS, atau turun 6,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengatakan bahwa komoditas ekspor daerah masih didominasi sektor sumber daya alam.
“Komoditas utama ekspor Kalimantan Tengah antara lain batu bara dan minyak kelapa sawit. Selain itu juga terdapat kayu olahan, lignit, dan karet remah,” ujarnya di Palangka Raya, baru-baru ini.
Menurut Agnes, kondisi ini menunjukkan struktur ekspor yang belum banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir.
“Ketergantungan terhadap komoditas primer ini membuat kinerja ekspor sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga dan permintaan global,” katanya.
Selain komoditas utama tersebut, ekspor juga mencakup produk turunan seperti kayu lapis dan bungkil, serta sejumlah mineral, antara lain zirconium, niobium, dan tantalum.
Dari sisi tujuan, ekspor Kalimantan Tengah masih terkonsentrasi ke sejumlah negara di Asia, seperti Jepang, India, dan Korea Selatan. Konsentrasi pasar ini dinilai membatasi ruang ekspansi ke pasar non-tradisional.
“Konsentrasi pasar yang masih di kawasan tertentu menjadi tantangan tersendiri untuk memperluas tujuan ekspor,” ujar Agnes.
Sementara itu, nilai impor Kalimantan Tengah pada periode yang sama tercatat sebesar 4,72 juta dollar AS, turun 19,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Impor didominasi barang penunjang industri, seperti mesin, ketel uap, dan bangunan prefabrikasi.
Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan Kalimantan Tengah masih mencatat surplus sebesar 553,31 juta dollar AS, karena nilai ekspor jauh melampaui impor.
Meski demikian, Agnes mengingatkan bahwa surplus tersebut tidak serta-merta mencerminkan kekuatan ekonomi yang solid.
“Surplus tetap tinggi, tetapi ini juga menunjukkan bahwa struktur ekonomi kita masih bergantung pada komoditas mentah dan belum didukung industri hilir yang kuat,” katanya.
Upaya diversifikasi produk ekspor dan pengembangan industri hilir dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Kalimantan Tengah di tengah dinamika pasar global.





