Akses Lumpuh, Jembatan Lawang Kamah Dikebut Dua Bulan—Warga Tak Bisa Menunggu

oleh
Bupati Kapuas Muhammad Wiyatno memimpin rapat koordinasi pembangunan jembatan menuju Desa Lawang Kamah, Kecamatan Timpah, di Ruang Rapat Rumah Jabatan Bupati Kapuas

Kuala Kapuas – Pemerintah Kabupaten Kapuas bergerak cepat membangun Jembatan Lawang Kamah di Kecamatan Timpah. Targetnya tak main-main: rampung dalam waktu maksimal dua bulan. Langkah ini diambil setelah akses utama warga terputus akibat jembatan lama yang rusak parah.

Selama ini, warga terpaksa mengandalkan transportasi sungai menggunakan kelotok untuk mobilitas sehari-hari—kondisi yang dinilai tidak layak untuk terus dibiarkan.

Sekretaris Daerah Kapuas, Usis I Sangkai menegaskan bahwa percepatan pembangunan menjadi prioritas utama pemerintah daerah.

“Paling lama dua bulan setelah 20 April 2026, jembatan ini harus sudah bisa dilalui masyarakat,” tegas Usis.

Akses Lumpuh, Warga Terpaksa Lewat Sungai

Kondisi jembatan sebelumnya yang berbahan kayu dilaporkan telah putus dan tidak lagi dapat digunakan. Akibatnya, aktivitas warga, termasuk distribusi barang dan akses layanan dasar, terganggu signifikan.

banner 336x280

Bahkan kendaraan tidak bisa masuk ke desa, sehingga banyak aktivitas ekonomi terhambat.

“Jembatan lama sudah putus dan tidak bisa dilalui, sehingga masyarakat harus menggunakan jalur sungai,” jelasnya.

banner 336x280

Libatkan Perusahaan, Dikebut Tanpa Bebani APBD

Menariknya, pembangunan jembatan ini tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah daerah. Pemkab Kapuas menggandeng sejumlah perusahaan besar swasta (PBS) melalui skema kolaborasi untuk mempercepat realisasi proyek.

Model ini dinilai sebagai solusi pragmatis di tengah keterbatasan anggaran.

“Pembangunan jembatan ini sepenuhnya dibangun oleh pihak perusahaan, dan kami menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut,” ujar Usis.

Jembatan yang akan dibangun memiliki bentang sekitar 65 meter dengan konstruksi kayu, dipilih agar pengerjaan lebih cepat tanpa mengorbankan fungsi utama sebagai akses penghubung warga.

Target Cepat, Tapi Kualitas Jadi Ujian

Meski target dua bulan terdengar ambisius, pemerintah daerah optimistis proyek ini dapat selesai tepat waktu, mengingat pengalaman perusahaan-perusahaan yang dilibatkan dalam pembangunan infrastruktur.

“Dengan pengalaman mereka, kami yakin pekerjaan ini bisa selesai tepat waktu,” katanya.

Namun, percepatan ini juga menyisakan pertanyaan soal kualitas dan daya tahan konstruksi, mengingat jembatan sebelumnya juga berbahan kayu dan akhirnya rusak termakan usia.

Taruhan Akses dan Ekonomi Warga

Pembangunan Jembatan Lawang Kamah bukan sekadar proyek fisik, tetapi menyangkut urat nadi aktivitas masyarakat desa. Akses jalan yang terputus berpotensi melumpuhkan ekonomi lokal jika tidak segera dipulihkan.

Karena itu, proyek ini menjadi ujian bagi pemerintah daerah—apakah mampu menyeimbangkan antara kecepatan pembangunan dan kualitas infrastruktur.

Jika berhasil, jembatan ini akan menjadi solusi nyata bagi keterisolasian warga. Namun jika gagal, masyarakat berisiko kembali menghadapi persoalan yang sama dalam beberapa tahun ke depan.

banner 336x280