PALANGKA RAYA — Rotan pernah menjadi urat nadi ekonomi Kalimantan Tengah. Dari hutan pedalaman hingga pasar Eropa, komoditas ini mengalir melalui sungai-sungai besar, menghidupi masyarakat adat sekaligus memperkaya kekuatan kolonial. Namun sejarah panjang itu juga menyimpan ironi: yang memanen, tetap miskin—yang menguasai, justru di luar daerah.
Sejumlah catatan sejarah dan laporan pemerintah menunjukkan bahwa perdagangan rotan di Kalimantan telah berlangsung sejak masa Hindia Belanda, dengan sistem distribusi berbasis sungai dan dikendalikan pedagang perantara serta perusahaan kolonial.
Eksploitasi Sejak Zaman Kolonial
Sejak era kolonial, rotan diposisikan sebagai komoditas strategis. Masyarakat Dayak masuk dalam sistem ekonomi ekstraktif: mengambil dari hutan, menjual murah, dan bergantung pada tengkulak.
Distribusi dilakukan melalui jalur sungai seperti Kahayan dan Barito—yang menjadi jalur utama perdagangan hasil hutan.
“Rotan merupakan salah satu hasil hutan non-kayu yang sejak lama diperdagangkan dan menjadi komoditas ekspor penting dari Kalimantan,” tulis dalam laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Namun, dalam praktiknya, masyarakat lokal hanya berada di posisi paling lemah dalam rantai nilai.
Kejayaan yang Semu
Pada periode 1970–1990-an, Indonesia menjadi eksportir rotan terbesar di dunia. Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah, menjadi pemasok utama bahan baku industri furnitur global.
Data dari Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) menyebutkan bahwa Indonesia pernah menguasai lebih dari 70 persen pasar rotan dunia.
“Sebagian besar rotan diekspor dalam bentuk bahan baku atau setengah jadi, sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati industri di luar daerah,” demikian catatan ASMINDO.
Kondisi ini membuat petani rotan tetap berada dalam tekanan harga, meski komoditasnya bernilai tinggi di pasar internasional.
Runtuh Perlahan: Kebijakan dan Kesalahan Arah
Memasuki era 2000-an, industri rotan mulai melemah. Kebijakan ekspor bahan mentah yang berubah-ubah dinilai memperburuk kondisi industri dalam negeri.
Menurut laporan Kementerian Perdagangan, fluktuasi kebijakan ekspor rotan berdampak langsung pada harga di tingkat petani dan keberlangsungan industri pengolahan.
Di saat yang sama:
- Deforestasi akibat ekspansi sawit dan tambang meningkat
- Minat generasi muda terhadap sektor rotan menurun
- Rantai distribusi tetap dikuasai perantara
Warisan yang Nyaris Hilang
Meski demikian, rotan masih bertahan sebagai bagian dari budaya masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Produk anyaman tradisional tetap diproduksi, meski dalam skala terbatas.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi hasil hutan non-kayu termasuk rotan masih ada, namun tidak lagi dominan seperti dekade sebelumnya.
“Rotan tetap memiliki potensi besar, terutama jika dikembangkan melalui hilirisasi dan industri kreatif,” tulis BPS dalam publikasi sektor kehutanan.
Masalah Utama: Pola Lama yang Tak Pernah Putus
Dari berbagai sumber, terlihat pola yang terus berulang sejak masa kolonial hingga kini:
- Ketergantungan pada ekspor bahan mentah
- Lemahnya industri pengolahan di daerah
- Tidak stabilnya harga di tingkat petani
- Minimnya perlindungan terhadap hutan
Momentum atau Sekadar Nostalgia?
Di tengah tren global terhadap produk ramah lingkungan, rotan sebenarnya memiliki peluang untuk bangkit kembali. Namun tanpa perubahan kebijakan dan keberpihakan pada pelaku lokal, potensi tersebut berisiko kembali terlewat.
Sejarah panjang ini menyisakan pertanyaan besar:
apakah rotan akan kembali menjadi kekuatan ekonomi Kalimantan Tengah, atau hanya akan dikenang sebagai komoditas yang pernah berjaya—tanpa pernah benar-benar menyejahterakan pemilik hutannya?
Sumber:
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
- Kementerian Perdagangan RI
- Badan Pusat Statistik (BPS)
- Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO)
- Berbagai catatan sejarah perdagangan hasil hutan Kalimantan





