G.Obos: Pejuang Besar Kalteng yang Terlupakan—Namanya Dipakai, Jasanya Nyaris Tak Dikenal

oleh
George Obus Umar, lahir pada 24 Desember 1902 di Kasongan

PALANGKA RAYA — Nama G.Obos terpampang besar di salah satu jalan utama Kota Palangka Raya. Tapi di balik nama itu, tersimpan ironi: tokoh besar ini justru nyaris hilang dari ingatan publik.

Padahal, G.Obos bukan figur biasa. Ia adalah pejuang nasional, birokrat, hingga perintis berdirinya Kalimantan Tengah—figur yang seharusnya berdiri sejajar dengan tokoh besar lain di daerah ini.

Identitas Asli: Bukan Sekadar “G.Obos”

Nama lengkapnya adalah George Obus Umar, lahir pada 24 Desember 1902 di Kasongan (Tewang Sanggalang Garing).

Nama “Umar” sengaja dihilangkan pada masa penjajahan untuk melindungi keluarga dari ancaman kolonial.

Ia wafat pada 19 April 1982 dan dimakamkan di Palangka Raya—kota yang kini mengabadikan namanya sebagai jalan utama.

banner 336x280

Riwayat Pendidikan: Dari Banjarmasin ke Surabaya

G.Obos termasuk generasi terdidik yang langka pada masanya.

  • Sekolah Zending di Banjarmasin
  • Lanjut ke Zeevaartschool (Sekolah Pelayaran) di Surabaya, lulus 1926
  • Pernah menempuh pendidikan di sekolah bahasa Jepang pada masa pendudukan Jepang

Lingkungan pendidikan ini membentuk cara berpikir modern dan nasionalis—yang kemudian mendorongnya aktif dalam gerakan pemuda.

banner 336x280

Peran Nasional: Tokoh Dayak di Sumpah Pemuda 1928

G.Obos bukan sekadar tokoh daerah. Ia adalah bagian dari sejarah nasional.

Ia menjadi wakil Kalimantan dalam Kongres Pemuda II tahun 1928, yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Bahkan, ia disebut sebagai satu-satunya pemuda Dayak yang terlibat langsung dalam momentum bersejarah tersebut.

“Ia satu-satunya pemuda Dayak di Sumpah Pemuda,” ungkap sumber sejarah lokal.

Ini bukan capaian kecil—ini posisi strategis dalam sejarah Indonesia.

Karier Organisasi & Politik: Dari Aktivis ke Elite Nasional

G.Obos aktif dalam berbagai organisasi dan partai:

  • Komisaris Persatuan Pemuda Kalimantan
  • Anggota Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI)
  • Pengurus Parindra (Partai Indonesia Raya)

Ia berada dalam lingkaran tokoh nasional pergerakan, berinteraksi dengan elite politik Indonesia masa awal kemerdekaan.

Perjuangan Militer: Letnan Kolonel ALRI

Tak hanya politik, G.Obos juga terlibat dalam perjuangan bersenjata:

  • Bergabung dalam ALRI Divisi IV Kalimantan
  • Menjabat Letnan Kolonel (Intelijen)

Ia juga terlibat dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk gerakan melawan kolonial pasca-proklamasi.

Karier Pemerintahan: Arsitek Awal Kalteng

Pasca kemerdekaan, kariernya melesat di pemerintahan:

  • Anggota KNIP (cikal bakal DPR RI)
  • Bupati Barito Utara (1951–1954)
  • Bupati Kapuas (1955–1958)
  • Anggota MPRS (1960–1967)

Ia juga berperan dalam Kongres Rakyat Kalteng 1956 yang menjadi tonggak pembentukan provinsi.

Singkatnya, G.Obos adalah arsitek politik dan administratif Kalimantan Tengah.

Peran Strategis: Menyatukan Kalimantan ke NKRI

Salah satu peran krusialnya:

  • Mengajak daerah-daerah di Kalimantan bergabung dengan Republik Indonesia
  • Menolak konsep federalisme Belanda (RIS)

Ini adalah peran strategis dalam menjaga keutuhan NKRI di masa rawan perpecahan.

Ironi Besar: Tokoh Nasional, Tapi “Hilang” di Daerah Sendiri

Meski jasanya besar, realitas di lapangan justru berbeda:

  • Tidak banyak buku sejarah lokal membahasnya
  • Minim monumen atau edukasi publik
  • Generasi muda hanya mengenalnya sebagai “nama jalan”

“Ini bukan sekadar lupa—ini kegagalan merawat sejarah daerah,” ujar seorang akademisi.

“Kalau tokoh seperti G.Obos saja tidak dikenal, kita sedang kehilangan identitas,” tambah tokoh masyarakat.

Lebih dari Sekadar Nama Jalan

Hari ini, Jalan G.Obos adalah pusat ekonomi, kuliner, hingga aktivitas warga. Namun, makna di balik nama itu perlahan terkikis.

G.Obos bukan sekadar nama. Ia adalah:

  • Pejuang kemerdekaan
  • Tokoh Sumpah Pemuda
  • Birokrat perintis
  • Arsitek Kalimantan Tengah

Dan jika kisahnya terus diabaikan, maka yang hilang bukan hanya sejarah—tetapi jati diri Kalimantan Tengah itu sendiri.

banner 336x280