Korsleting Listrik Dominasi Kebakaran di Kotim, Lemahnya Pengawasan Instalasi Mulai Disorot

oleh

SAMPIT – Kasus kebakaran bangunan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memunculkan alarm serius terkait lemahnya pengawasan instalasi listrik di permukiman maupun bangunan usaha. Data terbaru Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim menunjukkan korsleting listrik masih menjadi penyebab paling dominan kebakaran sepanjang Januari hingga April 2026.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa persoalan instalasi listrik di Kotim bukan lagi insiden sporadis, melainkan masalah berulang yang terus terjadi dari tahun ke tahun.

banner 336x280

Kepala Bidang Pencegahan Disdamkarmat Kotim, Hery Wahyudi, mengungkapkan mayoritas kebakaran bangunan yang ditangani petugas dipicu hubungan arus pendek listrik.

“Kebakaran bangunan paling banyak disebabkan korsleting listrik,” ujarnya di Sampit.

Berdasarkan data Disdamkarmat, selama empat bulan pertama 2026 terjadi 33 kasus kebakaran di Kotim. Dari jumlah tersebut, 12 di antaranya merupakan kebakaran bangunan dan sebagian besar dipicu gangguan instalasi listrik.

Yang menjadi sorotan, pola serupa sebenarnya sudah terjadi pada tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, Disdamkarmat Kotim menangani 95 kasus kebakaran dan kebakaran bangunan menjadi yang terbanyak dengan faktor dominan korsleting listrik.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kesadaran masyarakat terhadap standar keamanan instalasi listrik, khususnya pada bangunan lama dan kawasan padat penduduk.

Penelusuran menunjukkan banyak rumah maupun ruko di Sampit masih menggunakan jaringan listrik lama tanpa pemeriksaan berkala. Beban listrik yang meningkat akibat penggunaan pendingin ruangan, alat elektronik, hingga sambungan bertumpuk diduga memperbesar risiko korsleting.

Peringatan soal bahaya jaringan listrik sebenarnya sudah berulang kali disampaikan pemerintah daerah. Bahkan sejak 2019, DPRD Kotim meminta bangunan tua dan fasilitas publik menjalani pemeriksaan instalasi secara rutin untuk mencegah kebakaran besar.

Ketua Komisi III DPRD Kotim saat itu menegaskan jaringan listrik tua yang tidak diremajakan sangat rawan memicu kebakaran.

“Jaringan listrik yang sudah lapuk tidak bisa dianggap remeh,” tegasnya.

Ancaman korsleting juga diperparah kondisi cuaca ekstrem. Hujan deras disertai angin kencang dapat merusak lapisan kabel dan memicu hubungan arus pendek, terutama pada instalasi yang sudah usang.

Beberapa kebakaran besar di Kalimantan Tengah belakangan bahkan diduga bermula dari persoalan kelistrikan. Salah satunya kebakaran Pasar Tewah di Gunung Mas yang menghanguskan 11 bangunan dengan kerugian mencapai Rp1,5 miliar. Api diduga berasal dari korsleting listrik di jalur pasar.

Di Kotim sendiri, pemerintah mulai mendorong edukasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat. Namun hingga kini, pemeriksaan instalasi listrik rumah warga masih belum berjalan optimal dan lebih banyak bergantung pada kesadaran pribadi.

Padahal, menurut petugas pemadam, sebagian besar kebakaran sebenarnya bisa dicegah apabila instalasi diperiksa secara rutin dan penggunaan listrik tidak melebihi kapasitas daya.

Situasi ini menjadi peringatan bahwa ancaman kebakaran di Kotim bukan hanya soal kelalaian sesaat, tetapi juga akumulasi dari minimnya perawatan jaringan listrik yang selama ini dianggap sepele oleh banyak pemilik bangunan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.