Perayaan Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, kembali menjadi perhatian publik. Di tengah meningkatnya isu intoleransi di berbagai daerah, masyarakat di wilayah berjuluk “Habangkalan Penyang Karuhei Tatau” justru mempertahankan tradisi berbagi hewan kurban lintas agama yang telah berlangsung sejak puluhan tahun silam.
Bupati Gunung Mas, Jaya S Monong, menyebut perayaan Idul Adha di daerahnya memiliki keunikan tersendiri karena penerima bantuan hewan kurban bukan hanya umat Islam, tetapi juga masyarakat dari agama lain seperti Kristen dan Kaharingan.
“Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama,” ujar Jaya saat penyaluran hewan kurban di Kelurahan Tewah, Kecamatan Tewah, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, budaya saling berbagi tanpa memandang latar belakang agama bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari kehidupan sosial masyarakat Gunung Mas sejak daerah tersebut masih bergabung dengan Kabupaten Kapuas.
Jaya mengaku mengetahui langsung tradisi itu karena dirinya lahir dan besar di Kuala Kurun. Ia mengingat bagaimana pembagian daging kurban pada masa kecilnya tidak hanya diberikan kepada umat Muslim, tetapi juga kepada warga nonmuslim di lingkungan sekitar.
Fenomena tersebut dinilai menjadi potret kuat toleransi masyarakat pedalaman Kalimantan Tengah yang masih terjaga hingga sekarang. Di tengah perbedaan keyakinan, masyarakat tetap hidup berdampingan dan menjadikan momentum keagamaan sebagai ruang mempererat persaudaraan.
“Keberagaman menjadi kekuatan dalam menjaga keharmonisan masyarakat,” kata Jaya.
Tradisi berbagi lintas agama itu juga disebut menjadi alasan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas meminta tambahan bantuan sapi kurban kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Permintaan tersebut direspons positif oleh Gubernur Kalteng Agustiar Sabran.
Jika pada Idul Adha sebelumnya Gunung Mas menerima 10 ekor sapi kurban bantuan provinsi, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 17 ekor.
Di sisi lain, peningkatan bantuan kurban juga dinilai memiliki dimensi sosial dan politik yang kuat. Pemerintah daerah terlihat ingin menjaga simbol persatuan masyarakat lintas etnis dan agama di tengah dinamika sosial yang terus berubah.
Budaya “menggatang utus” atau gotong royong yang menjadi identitas masyarakat Dayak disebut masih menjadi fondasi utama hubungan sosial masyarakat Gunung Mas hingga kini.
Momentum Idul Adha di Gunung Mas akhirnya bukan hanya soal ritual keagamaan, tetapi juga menjadi simbol toleransi yang hidup di tengah masyarakat multikultural Kalimantan Tengah.













