Jakarta โ Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), mata uang Garuda tercatat melemah hingga menyentuh level Rp17.926 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.
Data pasar menunjukkan rupiah di pasar spot melemah sekitar 0,49 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global yang dipicu ketidakpastian ekonomi dunia, tingginya harga energi, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap aset berisiko.
Mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Namun, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih besar dibandingkan sejumlah mata uang regional lainnya sehingga menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang menguntungkan di pasar valuta asing.
Analis pasar menilai penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik turut meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven seperti dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sebelumnya menegaskan bahwa bank sentral akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali.
“Bank Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup untuk melakukan intervensi yang diperlukan guna menjaga stabilitas rupiah,” kata Perry Warjiyo.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama otoritas moneter saat ini.
“Menstabilkan rupiah tentu menjadi prioritas utama bagi kami saat ini. Kami akan menggunakan setiap instrumen dan kebijakan yang kami miliki,” ujar Destry Damayanti.
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku industri, energi, dan produk konsumsi yang bergantung pada mata uang asing. Kondisi tersebut juga dapat menambah tekanan inflasi apabila berlangsung dalam waktu yang lama.
Meski demikian, Bank Indonesia terus melakukan berbagai upaya, mulai dari intervensi di pasar valuta asing hingga penguatan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Investor dan pelaku usaha kini menantikan langkah lanjutan pemerintah serta bank sentral guna meredam tekanan terhadap rupiah yang telah mencapai level Rp17.926 per dolar AS, level terlemah di Asia saat ini.













