JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menekan daya beli masyarakat. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup, kondisi ini dinilai memperbesar tekanan ekonomi rumah tangga, khususnya kelompok menengah ke bawah.
Nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp17.445 per dolar AS. Kondisi tersebut dipicu tekanan global mulai dari konflik geopolitik Timur Tengah, tingginya suku bunga Amerika Serikat, hingga arus keluar modal asing dari negara berkembang.
Melemahnya rupiah berdampak langsung pada kenaikan biaya impor bahan baku, energi, hingga harga barang konsumsi. Efek berantai mulai terasa di tingkat masyarakat melalui naiknya harga kebutuhan harian dan menurunnya kemampuan belanja warga.
Ekonom menilai kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi nasional tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat kecil. Di lapangan, pelaku usaha mikro hingga pedagang pasar mulai mengeluhkan penurunan transaksi dan meningkatnya biaya operasional.
“Inflationary pressure, rupiah depreciation, and volatility in global oil markets will reduce households’ ability to spend,” ujar ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan.
Meski pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2026 mencapai 5,61 persen, sejumlah analis menilai capaian itu belum mencerminkan kondisi riil masyarakat. Pertumbuhan disebut lebih banyak ditopang belanja pemerintah dan momentum Ramadan serta Idulfitri.
Bank Indonesia sendiri mengakui tekanan terhadap rupiah masih kuat. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan pihaknya akan melakukan intervensi besar-besaran di pasar domestik maupun offshore untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.
“Bank Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup untuk melakukan intervensi kuat guna menstabilkan rupiah,” kata Perry Warjiyo.
Di sisi lain, masyarakat kini menghadapi situasi serba sulit. Harga pangan, biaya transportasi, dan kebutuhan harian terus bergerak naik, sementara pendapatan sebagian warga belum mengalami peningkatan signifikan.
Pengamat menilai pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan kurs, tetapi sudah menjadi tekanan nyata terhadap ekonomi masyarakat. Jika kondisi global belum stabil dan daya beli terus melemah, risiko perlambatan konsumsi rumah tangga diperkirakan semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








