Indonesia-Filipina Bangun Aliansi Mineral Kritis, Perkuat Dominasi Pasok Nikel Dunia

oleh -35 Dilihat
oleh

JAKARTA – Indonesia dan Filipina memperkuat kerja sama strategis di sektor mineral kritis dengan membangun rantai pasok global berbasis nikel. Langkah ini dinilai menjadi upaya besar Asia Tenggara dalam menguasai industri baterai kendaraan listrik dan hilirisasi mineral dunia di tengah meningkatnya persaingan ekonomi global.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di Cebu, Filipina, di sela agenda The 27th ASEAN Economic Community (AEC) Council.

banner 336x280

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan kolaborasi itu bukan sekadar hubungan dagang biasa, melainkan pembentukan jalur strategis baru industri nikel regional.

“Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor,” kata Airlangga Hartarto.

Menurut Airlangga, Indonesia memiliki kekuatan pada sektor hilirisasi dan smelter, sementara Filipina unggul dalam pasokan bahan baku nikel. Integrasi kedua negara dinilai akan menciptakan rantai pasok yang lebih stabil sekaligus memperkuat posisi ASEAN dalam industri kendaraan listrik global.

Data United States Geological Survey (USGS) 2026 menunjukkan Indonesia dan Filipina menguasai sekitar 73,6 persen produksi nikel dunia sepanjang 2025. Indonesia menyumbang sekitar 2,6 juta ton, sedangkan Filipina mencapai 270 ribu ton.

Pemerintah Indonesia menilai kerja sama ini penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan bijih nikel bagi industri smelter nasional yang terus berkembang pesat. Indonesia juga membutuhkan bahan baku dengan komposisi tertentu untuk mendukung produksi baterai kendaraan listrik dan industri energi baru.

“Sebagai dua produsen nikel terbesar dunia, Indonesia dan Filipina perlu bekerja sama membangun rantai pasok global yang lebih kuat dan tangguh,” demikian pernyataan dalam forum Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) RI-Filipina.

Selain penguatan sektor mineral kritis, kedua negara juga memperluas kerja sama di bidang ekonomi, energi, pembayaran lintas negara, hingga konektivitas kawasan perbatasan seperti Manado, Bitung, Davao, dan General Santos.

Kerja sama tersebut dipandang sebagai langkah strategis menghadapi meningkatnya permintaan global terhadap mineral kritis yang menjadi bahan utama kendaraan listrik, teknologi energi bersih, dan industri teknologi tinggi dunia

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.