PALANGKA RAYA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai berpotensi memicu tekanan berantai pada sektor logistik hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Tengah. Dampak tersebut diperkirakan akan berujung pada kenaikan biaya distribusi dan harga barang di tingkat konsumen.
Pengamat ekonomi Benius, M.M., Ph.D., CIBA menyatakan, struktur ekonomi Kalimantan Tengah yang bergantung pada distribusi antarkota membuat daerah ini sensitif terhadap perubahan harga energi.

“Setiap kenaikan BBM nonsubsidi hampir pasti diikuti kenaikan ongkos logistik. Dampaknya tidak berhenti di transportasi, tetapi menjalar ke harga bahan pokok dan biaya produksi UMKM,” ujar Benius, dalam keterangannya, Senin.
Tekanan Langsung pada Distribusi
Menurut Benius, pelaku logistik cenderung melakukan penyesuaian tarif untuk menjaga margin usaha. Kondisi ini akan meningkatkan biaya pengiriman barang, terutama pada wilayah dengan akses distribusi terbatas.
“Di daerah seperti Kalimantan Tengah, biaya distribusi adalah komponen besar dalam pembentukan harga. Ketika BBM naik, tekanan biaya langsung terasa,” katanya.
UMKM Hadapi Margin Tertekan
Benius menilai UMKM berada pada posisi paling rentan. Kenaikan biaya bahan baku dan distribusi mempersempit margin keuntungan, sementara ruang untuk menaikkan harga jual terbatas karena mempertimbangkan daya beli masyarakat.
“UMKM menghadapi dilema: menaikkan harga berisiko kehilangan konsumen, tetapi jika tidak, margin akan tergerus,” ujarnya.
Potensi Dorong Inflasi Daerah
Ia juga mengingatkan potensi kenaikan inflasi daerah akibat efek berantai tersebut. Jika harga barang dan jasa meningkat secara luas, daya beli masyarakat berpotensi melemah.
“Jika tidak diantisipasi, ini bisa mendorong inflasi, terutama dari kelompok transportasi dan bahan makanan,” kata Benius.
Perlu Kebijakan Mitigasi
Benius mendorong pemerintah daerah mengambil langkah antisipatif, seperti menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar serta memberikan dukungan bagi pelaku UMKM.
“Intervensi yang tepat diperlukan agar dampak kenaikan BBM tidak memperdalam tekanan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi variabel penting yang perlu diwaspadai, mengingat dampaknya yang luas terhadap rantai pasok dan ketahanan ekonomi daerah, khususnya di wilayah dengan karakter distribusi yang kompleks seperti Kalimantan Tengah.




