JAKARTA — Pemerintah memperkuat bauran kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan eksternal yang berpotensi mengganggu stabilitas pertumbuhan dan inflasi.
Dalam keterangan resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja solid. Pertumbuhan tercatat 5,11 persen pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 5,3 persen pada 2026, dengan inflasi yang tetap terkendali.

Pemerintah menilai kondisi tersebut harus dijaga melalui kebijakan yang terintegrasi, terutama di tengah risiko global seperti perlambatan ekonomi dunia, gejolak geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas.
“Penguatan bauran kebijakan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional,” demikian disampaikan dalam siaran pers Kemenko Perekonomian.
Strategi yang ditempuh mencakup penguatan daya beli masyarakat, menjaga investasi tetap tumbuh, serta memastikan sektor industri dan ekspor tetap kompetitif. Pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.

Selain itu, koordinasi antarotoritas terus diperkuat untuk merespons dinamika global secara cepat dan terukur. Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan tidak berjalan parsial, melainkan saling menopang.
Di sisi lain, pemerintah mengakui tantangan global masih tinggi dan berpotensi memicu tekanan lanjutan terhadap ekonomi domestik. Karena itu, kewaspadaan menjadi bagian utama dalam perumusan kebijakan ke depan.

Dengan kombinasi kebijakan yang adaptif dan terkoordinasi, pemerintah berharap ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga, sekaligus mampu memanfaatkan peluang pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.


