Jakarta – Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) masih tinggi, mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Pemerintah kini membuka peluang kerja sama strategis dengan Rusia, tidak hanya untuk pasokan minyak mentah, tetapi juga pembangunan kilang domestik guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, kebutuhan energi nasional yang besar memaksa Indonesia tetap mengandalkan impor, sembari mendorong peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

“Impor BBM kita masih sekitar 1 juta barel per hari,” ujar Bahlil dalam keterangannya.
Di tengah kondisi tersebut, Rusia disebut menunjukkan minat serius untuk masuk ke sektor hilir migas Indonesia. Salah satu bentuknya adalah rencana investasi pembangunan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan (storage), yang saat ini masih dalam tahap pembahasan lanjutan.
Bahlil menegaskan, kerja sama ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber energi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
“Rusia siap membangun beberapa infrastruktur penting, termasuk kilang dan storage, untuk meningkatkan ketahanan energi nasional,” kata Bahlil.
Selain itu, pemerintah juga membuka opsi pembelian minyak mentah dari Rusia sebagai langkah pragmatis dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga energi domestik. Bahlil menekankan, kebijakan tersebut sejalan dengan prinsip politik dan ekonomi bebas aktif Indonesia.
“Kita boleh belanja di mana saja, selama itu menguntungkan negara,” ujarnya.
Pemerintah menilai, masuknya investasi kilang menjadi kunci untuk menekan ketergantungan impor BBM dalam jangka panjang. Dengan kapasitas pengolahan yang lebih besar di dalam negeri, Indonesia diharapkan dapat mengurangi defisit energi sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor migas.
Namun demikian, realisasi proyek kilang bersama Rusia masih menunggu finalisasi teknis dan kesepakatan investasi, yang disebut akan dibahas dalam beberapa tahap lanjutan.
Lewati ke konten




