Usia Produktif Dominasi Kasus DBD, Risiko Komplikasi Perlu Diwaspadai

oleh
Kasus DBD banyak menyerang usia produktif. Waspadai risiko komplikasi dengue dan kenali tanda bahaya agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Jakarta – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Menariknya, kelompok usia produktif kini tercatat sebagai kelompok yang paling banyak terpapar penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran karena tingginya aktivitas dan mobilitas masyarakat usia produktif berpotensi meningkatkan risiko penularan.

Data yang disampaikan para ahli menunjukkan bahwa DBD tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga banyak ditemukan pada kelompok usia 15 hingga 44 tahun. Selain berisiko mengganggu produktivitas kerja, infeksi dengue pada kelompok ini juga dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam yang dikutip CNN Indonesia, masyarakat perlu memahami bahwa gejala DBD tidak boleh dianggap sepele. Demam tinggi yang berlangsung mendadak, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, hingga munculnya bintik merah pada kulit harus segera mendapatkan perhatian medis.

Pasien harus segera diperiksa apabila mengalami demam tinggi yang tidak kunjung membaik dalam beberapa hari, terutama jika disertai tanda-tanda bahaya seperti muntah terus-menerus atau perdarahan,” ujar narasumber tersebut.

Selain itu, komplikasi DBD dapat terjadi ketika pasien mengalami kebocoran plasma yang memicu syok dengue. Kondisi ini berpotensi mengancam nyawa jika terlambat ditangani. Oleh karena itu, pemantauan kondisi pasien selama masa kritis menjadi faktor penting dalam proses penyembuhan.

Pakar kesehatan juga mengingatkan bahwa banyak penderita merasa kondisi tubuhnya membaik setelah demam turun. Padahal, fase tersebut justru dapat menjadi masa paling berbahaya dalam perjalanan penyakit dengue.

Turunnya demam bukan berarti pasien sudah sembuh. Masa kritis biasanya terjadi setelah fase demam dan perlu pemantauan ketat,” kata narasumber.

Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kasus DBD. Masyarakat diimbau rutin menjalankan gerakan pemberantasan sarang nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, serta menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan pelindung yang sesuai.

Dengan meningkatnya kasus DBD pada usia produktif, kewaspadaan perlu terus ditingkatkan. Deteksi dini, penanganan cepat, dan upaya pencegahan yang konsisten menjadi kunci untuk mengurangi risiko komplikasi serta menekan dampak penyakit ini terhadap kesehatan masyarakat dan produktivitas nasional.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *