Palangka Raya– Nama Suwido Limin dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam upaya penyelamatan lahan gambut di Indonesia. Bagi masyarakat Kalimantan Tengah, ia bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga pejuang lingkungan yang mengabdikan hidupnya demi menjaga hutan gambut dari kerusakan dan kebakaran yang terus mengancam.
Lahir di Desa Bawan, daerah aliran Sungai Kahayan, pada 24 Mei 1955, Suwido tumbuh dekat dengan alam. Sejak kecil ia kerap mengikuti ayahnya masuk ke hutan. Pengalaman tersebut membentuk kecintaannya terhadap lingkungan sekaligus memperkenalkannya pada kearifan masyarakat Dayak dalam memperlakukan hutan secara bijaksana. Perjalanan hidup itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu ahli gambut terkemuka di Indonesia.
Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang agronomi, Suwido mengabdikan dirinya sebagai dosen di Universitas Palangka Raya. Di kampus tersebut, ia aktif melakukan penelitian mengenai ekosistem gambut tropis sekaligus mendirikan berbagai program konservasi yang melibatkan masyarakat. Ia juga dikenal sebagai sosok penting di Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP) yang menjadi rujukan penelitian gambut hingga tingkat internasional.
Dalam berbagai kesempatan, Suwido menegaskan bahwa penyelamatan gambut tidak bisa dilakukan tanpa melibatkan masyarakat adat. Ia pernah mengatakan, “Kekuasaan menyampingkan adat, berdampak kehancuran hutan.” Pernyataan tersebut menggambarkan keyakinannya bahwa pelestarian lingkungan harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.
Komitmennya juga terlihat saat menghadapi kebakaran hutan dan lahan yang berulang di Kalimantan Tengah. Bersama tim peneliti dan masyarakat, ia mengembangkan konsep Tim Serbu Api (TSA) sebagai pendekatan cepat untuk menanggulangi kebakaran gambut berbasis komunitas. Konsep ini kemudian menjadi salah satu model yang banyak mendapat perhatian dalam pengelolaan kebakaran lahan gambut.
Dedikasi Suwido mendapat pengakuan dari berbagai kalangan, termasuk komunitas internasional. Dalam sebuah penghormatan setelah wafatnya, fotografer Bjorn Vaughn mengatakan, “He had the biggest understanding of peat fires and how to prevent them, and I hope his message is heard.” Sementara rekan-rekannya mengenangnya sebagai sosok pemimpin yang memiliki dedikasi tinggi terhadap konservasi gambut dan pendidikan generasi muda.
Suwido Hester Limin meninggal dunia pada 6 Juni 2016 setelah berjuang melawan kanker. Meski telah tiada, gagasan dan hasil penelitiannya masih menjadi rujukan dalam pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Warisan terbesar yang ditinggalkannya bukan hanya publikasi ilmiah, melainkan juga semangat bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan masyarakat yang hidup berdampingan dengannya.
Bagi Kalimantan Tengah, nama Suwido Limin tetap hidup sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan, ilmu pengetahuan, dan pelestarian budaya Dayak. Perjuangannya menjadi pengingat bahwa konservasi lahan gambut merupakan tanggung jawab bersama demi keberlanjutan generasi mendatang.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













