Di sebuah rumah betang, ukiran menyerupai pohon dengan ranting yang menjulang sering kali menjadi benda pertama yang menarik perhatian. Sekilas tampak sederhana. Namun bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, simbol itu bukan sekadar hiasan. Ia adalah Batang Garing, lambang kehidupan yang diwariskan turun-temurun dan tetap hidup hingga hari ini.
Palangka Raya — Di balik setiap garis dan lengkung Batang Garing, tersimpan pandangan hidup yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Filosofi itu terus dijaga, bukan hanya dalam upacara adat, tetapi juga hadir pada bangunan pemerintahan, karya seni, hingga identitas budaya Kalimantan Tengah.
Dalam kosmologi Dayak Ngaju, Batang Garing dipercaya sebagai Pohon Kehidupan yang telah ada sejak awal penciptaan alam semesta. Simbol ini memiliki bentuk menyerupai pohon dengan cabang-cabang yang menjulang, dihiasi matahari, burung enggang, serta guci di bagian bawah yang masing-masing memiliki makna tersendiri.
Burung enggang melambangkan keluhuran dan kebijaksanaan. Matahari menjadi simbol sumber kehidupan, sedangkan guci menggambarkan asal mula kehidupan manusia. Keseluruhan unsur tersebut menyatu dalam satu pesan: kehidupan harus dijalani dengan menjaga harmoni.
“Batang Garing bukan hanya simbol kepercayaan, tetapi menjadi pedoman hidup masyarakat Dayak yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” demikian dijelaskan dalam artikel Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Palangka Raya.
Kini, Batang Garing tidak lagi hanya ditemukan di kawasan adat atau tempat ibadah. Simbol tersebut menghiasi gerbang kota, kantor pemerintahan, museum, hingga berbagai produk kerajinan khas Kalimantan Tengah.
Keberadaannya menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus menghapus akar budaya. Justru di tengah perkembangan zaman, Batang Garing semakin sering diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan budaya, festival, hingga promosi pariwisata.
“Batang Garing merupakan ikon budaya yang merepresentasikan nilai kehidupan, persatuan, dan penghormatan terhadap alam,” tulis Disparbudpora Kota Palangka Raya dalam publikasinya mengenai filosofi simbol tersebut.
Di era media sosial, Batang Garing kerap muncul sebagai motif pakaian, suvenir, hingga logo berbagai kegiatan. Popularitas itu membawa peluang sekaligus tantangan. Simbol budaya memang semakin dikenal, tetapi pemahaman terhadap maknanya tidak boleh berhenti pada bentuk visual semata.
Bagi masyarakat Dayak, Batang Garing adalah pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, saling menghormati sesama, serta menjaga keseimbangan dalam setiap langkah kehidupan. Nilai-nilai tersebut justru terasa semakin relevan ketika perubahan lingkungan dan sosial berlangsung begitu cepat.
Karena itu, mengenal Batang Garing bukan hanya belajar tentang sebuah simbol tradisional. Ia adalah cara memahami bagaimana sebuah masyarakat merawat identitasnya selama ratusan tahun, sekaligus mengajak siapa pun yang datang ke Kalimantan Tengah untuk melihat bahwa setiap ukiran memiliki cerita, dan setiap cerita menyimpan kebijaksanaan yang masih hidup hingga sekarang.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






