Pagi baru saja menyapa ketika cahaya matahari menembus sela-sela papan kayu ulin di Huma Tugu Tuah. Bangunan tua itu berdiri tenang, seolah tak tergesa mengikuti ritme kota yang terus berubah. Di tengah geliat Palangka Raya yang semakin modern, rumah tradisional ini tetap menyimpan cerita yang tak bisa dibaca hanya dari usia bangunannya.
Bagi sebagian orang, Huma Tugu Tuah mungkin hanya tampak sebagai rumah kayu berarsitektur Dayak. Namun bagi masyarakat yang mengenal sejarahnya, tempat ini adalah saksi perjalanan sebuah kota yang tumbuh dari tepian Sungai Kahayan menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Keberadaannya kini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya yang dijaga Pemerintah Kota Palangka Raya sebagai bagian dari identitas daerah.
Dalam bahasa Dayak Ngaju, huma berarti rumah. Namun Huma Tugu Tuah bukan sekadar tempat berteduh. Bangunan ini merekam cara hidup masyarakat Dayak yang sangat bergantung pada sungai sebagai jalur transportasi, pusat interaksi sosial, sekaligus ruang tumbuhnya kebudayaan.
Melalui publikasi Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Palangka Raya, Huma Tugu Tuah digambarkan sebagai warisan budaya yang merepresentasikan nilai gotong royong, kearifan lokal, serta kemampuan masyarakat Dayak membangun hunian yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Bangunan kayu ulin yang kokoh menjadi bukti tingginya pengetahuan lokal dalam memilih material yang tahan terhadap iklim tropis Kalimantan.
Kepala Disparbudpora Kota Palangka Raya dalam berbagai program pelestarian cagar budaya menegaskan, “Mari kita jaga serta lestarikan bersama demi mewujudkan kebudayaan nasional untuk kemakmuran masyarakat.” Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
Sementara dalam sosialisasi cagar budaya, Pemerintah Kota Palangka Raya juga menekankan bahwa “tujuan pelaksanaan sosialisasi ini adalah untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang pelestarian cagar budaya kepada seluruh masyarakat.” Upaya tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan sejarah yang masih tersisa.
Di tengah berkembangnya destinasi wisata modern, keberadaan Huma Tugu Tuah menawarkan pengalaman berbeda. Pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memahami bagaimana sebuah rumah dapat menjadi ruang penyimpan memori kolektif masyarakat.
Pelestarian Huma Tugu Tuah menjadi penting ketika kota terus berkembang dan ruang-ruang lama perlahan berganti wajah. Bangunan ini mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak masa lalu. Justru dari rumah-rumah seperti inilah karakter Palangka Raya dibentuk.
Barangkali suatu hari nanti, ketika generasi berikutnya bertanya bagaimana Palangka Raya bermula, jawabannya bukan hanya tersimpan dalam buku sejarah. Ia masih berdiri dalam wujud Huma Tugu Tuah—sunyi, sederhana, namun terus menjaga ingatan tentang akar budaya yang membentuk kota ini.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







