Hausman Baboe, Perintis Pers dan Pejuang Dayak yang Terlupakan

oleh
Hausman Baboe, perintis pers Dayak dan pejuang nasional asal Kalimantan Tengah yang berperan besar dalam kebangkitan politik masyarakat Dayak. - Ilustrasi-

Kuala Kapuas– Nama Hausman Baboe mungkin tidak sepopuler tokoh nasional lainnya, namun jejak perjuangannya memiliki peran penting dalam sejarah Kalimantan dan pergerakan nasional Indonesia. Tokoh asal Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah ini dikenal sebagai perintis pers Dayak, pejuang kebangsaan, sekaligus pelopor kebangkitan politik masyarakat Dayak pada masa kolonial Belanda.

Lahir di Desa Hampatung, Kuala Kapuas, sekitar awal 1880-an, Hausman Baboe berasal dari keluarga bangsawan Dayak Ngaju. Pendidikan yang diperolehnya dari sekolah zending membuka jalan baginya untuk terjun ke dunia jurnalistik sejak 1905 melalui surat kabar Sinar Borneo. Ia kemudian aktif menulis di berbagai media dan dikenal sebagai salah satu perintis pers di Kalimantan.

Perjalanan hidupnya tidak berhenti sebagai wartawan. Hausman juga pernah menjabat sebagai kepala distrik Kuala Kapuas di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Namun, pandangan anti-kolonial yang lantang membuatnya diberhentikan dari jabatan tersebut pada 1922.

Tuduhan itu tidak membuatnya mundur. Justru setelah diberhentikan, ia semakin leluasa bergerak dalam perjuangan kebangsaan,” tulis sejumlah catatan sejarah mengenai kiprahnya.

Hausman Baboe aktif membentuk organisasi masyarakat Dayak dan menginisiasi berbagai kongres yang memperjuangkan hak-hak masyarakat pribumi. Ia juga mendirikan sekolah bagi anak-anak Dayak sebagai upaya meningkatkan pendidikan dan kesadaran politik generasi muda.

Melalui surat kabar Suara Borneo, ia menyebarkan gagasan persatuan bangsa dan menentang stereotip negatif terhadap masyarakat Dayak. Dalam salah satu gagasannya, ia menekankan bahwa seluruh kelompok etnis di Nusantara memiliki “nasib yang sama” sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Hausman juga menjalin hubungan dengan tokoh nasional seperti H.O.S. Tjokroaminoto. Kedekatan itu membuat pemerintah kolonial mengawasi aktivitasnya secara ketat karena dianggap berpotensi membangkitkan gerakan anti-kolonial di Kalimantan.

Perjuangan Hausman Baboe berakhir tragis. Pada masa pendudukan Jepang, ia ditangkap dan dituduh berkolaborasi dengan pihak Belanda. Pada 20 Desember 1943, ia dieksekusi bersama ratusan tokoh lainnya di Kalimantan. Tiga putra sulungnya juga menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Hausman Baboe merupakan perintis pers di Kalimantan dan tokoh penting pergerakan nasional dari Kalimantan Tengah,” demikian disebut dalam berbagai catatan sejarah daerah.

Meski namanya jarang dibahas dalam sejarah nasional, warisan pemikiran Hausman Baboe masih terasa hingga kini. Ia dikenang sebagai pelopor pers Dayak, penggerak kesadaran politik masyarakat Kalimantan, dan salah satu tokoh yang membuka jalan bagi lahirnya identitas serta perjuangan masyarakat Dayak modern. Bahkan, namanya kini diabadikan menjadi salah satu jalan utama di Palangka Raya.

Perjalanan hidup Hausman Baboe menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari Pulau Jawa, tetapi juga tumbuh kuat dari pedalaman Kalimantan melalui keberanian seorang jurnalis yang memilih berdiri di pihak rakyat.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.