Inflasi Kalteng Juni 2026 Naik, Harga Pangan dan Transportasi Jadi Pemicu Utama

oleh
Inflasi Kalteng Juni 2026 dipicu kenaikan harga pangan dan transportasi. Pemerintah memperkuat langkah pengendalian untuk menjaga stabilitas harga.

Palangka Raya – Inflasi Kalimantan Tengah pada Juni 2026 kembali mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan harga bahan pangan dan biaya transportasi menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) di sejumlah wilayah pemantauan.

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan seperti beras, ikan, minyak goreng, serta tarif angkutan udara dan biaya transportasi lainnya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga dan daya beli masyarakat di Kalimantan Tengah.

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi. Selain itu, kelompok transportasi ikut memberikan andil cukup besar akibat meningkatnya biaya perjalanan dan distribusi barang.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, mengatakan sejumlah komoditas strategis masih mendominasi penyumbang inflasi selama Juni 2026.

Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi antara lain beras, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, serta angkutan udara,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga dipengaruhi terbatasnya pasokan beberapa komoditas lokal, meningkatnya biaya distribusi, serta masih adanya tekanan dari kondisi ekonomi global yang berimbas pada harga energi dan logistik.

Selain beras, kenaikan harga ikan konsumsi, minyak goreng, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya turut memberikan tekanan terhadap inflasi daerah.

Di luar sektor pangan, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar berikutnya. Naiknya tarif angkutan udara, biaya bahan bakar, hingga ongkos distribusi barang menyebabkan harga berbagai kebutuhan ikut meningkat.

Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama bagi warga yang berada di wilayah yang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias, sebelumnya juga mengingatkan bahwa tekanan inflasi masih berpotensi berlanjut.

Kalau melihat pola historis, seharusnya setelah Idulfitri terjadi penurunan harga atau deflasi. Namun tahun ini berbeda karena adanya kenaikan harga BBM yang secara tidak langsung memengaruhi harga komoditas pangan strategis,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah risiko seperti ketidakpastian geopolitik global, potensi gangguan produksi pangan akibat cuaca, tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa liburan perlu terus diantisipasi agar inflasi tidak semakin tinggi.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Bank Indonesia, Bulog, BPS, pemerintah kabupaten/kota, dan instansi terkait terus memperkuat langkah pengendalian inflasi.

Upaya yang dilakukan meliputi menjaga ketersediaan stok pangan, memperlancar distribusi barang, memperluas pelaksanaan pasar murah, hingga memperkuat koordinasi antarwilayah guna menjaga stabilitas harga.

Langkah tersebut diharapkan mampu menekan laju inflasi Kalteng dalam beberapa bulan mendatang sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga pangan dan biaya transportasi. Pemerintah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi agar stabilitas harga tetap terjaga dan pasokan kebutuhan pokok masyarakat tetap aman.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *