Bulan Jihad, Pejuang Wanita Dayak yang Mengobarkan Perang Barito

oleh
Bulan Jihad, pejuang wanita Dayak dalam Perang Barito, dikenang sebagai pemersatu masyarakat Kalimantan sekaligus pelindung hutan.

Muara Teweh– Nama Bulan Jihad mungkin belum setenar tokoh-tokoh besar dalam sejarah perjuangan Indonesia. Namun, di balik rimbunnya hutan Kalimantan, perempuan Dayak yang juga dikenal dengan nama Ilum itu menjadi simbol keberanian dalam Perang Barito. Ia bukan hanya mengangkat senjata melawan kolonial Belanda, tetapi juga menjadi pemersatu berbagai subetnis Dayak dan masyarakat Banjar dalam mempertahankan tanah leluhur.

Perlawanan Bulan Jihad berawal dari gejolak yang muncul akibat aktivitas tambang batu bara Oranje Nassau di Pengaron. Eksploitasi sumber daya alam yang disertai pembabatan hutan dinilai mengancam kehidupan masyarakat adat Dayak yang bergantung pada hutan, pertanian, dan sumber air.

Dalam situasi itulah Bulan Jihad tampil sebagai sosok perempuan tangguh. Dengan nama kecil Ilum, perempuan yang berasal dari Suku Kenyah itu memilih meninggalkan kampung halamannya demi bergabung dalam perjuangan di kawasan Barito.

Ia kemudian berjuang bersama Ratu Zaleha, tokoh perempuan penerus semangat perjuangan Pangeran Antasari dan Gusti Muhammad Seman. Kehadiran Bulan Jihad mampu menyatukan berbagai kelompok, mulai dari Dayak Kenyah, Ngaju, Siang, Dusun Bakumpai hingga masyarakat Banjar dalam satu barisan melawan penjajahan Belanda.

Dalam catatan sejarah, disebutkan, “Bulan Jihad adalah salah satu dari bukti bahwa kaum wanita Dayak turut berjuang. Mereka tidak berpangku tangan dan pasrah pada keadaan, setiap tetes keringat dan darah mereka korbankan.”

Keberanian Bulan Jihad juga mendapat perhatian dari tokoh nasional Kalimantan, Tjilik Riwut. Dalam kisah yang dikutip beberapa media, ia menggambarkan Bulan Jihad sebagai “Panglima Burung yang jelita, wataknya luar biasa dan mampu mempersatukan Tanah Dayak.”

Tak hanya dikenal sebagai pejuang perang, Bulan Jihad juga digambarkan memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam. Di tengah perjuangan melawan kolonial, ia disebut ikut menjaga hutan dan merawat kembali kawasan yang rusak akibat aktivitas eksploitasi.

Meski banyak rekan seperjuangannya tertangkap, semangat Bulan Jihad tidak pernah padam. Pemerintah kolonial Belanda kesulitan menangkapnya hingga masa pendudukan Jepang pada 1942. Bahkan, menurut kisah, Jepang memilih tidak mengusiknya karena menyadari besarnya pengaruh dan kekuatan yang dimilikinya.

Kemunculan terakhir Bulan Jihad tercatat pada 11 Januari 1954 di wilayah Muara Joloi. Setelah hampir setengah abad berjuang di pedalaman, ia mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka, meski harus menerima kenyataan sahabat seperjuangannya, Ratu Zaleha, telah lebih dahulu wafat.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.