Palangka Raya– Nama Christian Simbar mungkin belum sepopuler sejumlah tokoh nasional. Namun, bagi masyarakat Kalimantan Tengah, sosok ini menjadi bagian penting dari sejarah panjang lahirnya provinsi yang kini berdiri sendiri. Di balik perjuangan politik dan sosial pada era 1950-an, Christian Simbar dikenal sebagai salah satu tokoh Dayak yang gigih memperjuangkan terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah.
Lahir di Desa Madara, Barito Selatan, pada 5 Juli 1927, Christian Simbar tumbuh di lingkungan masyarakat Dayak Ma’anyan. Sejak muda, ia telah terlibat dalam berbagai aktivitas perjuangan yang bertujuan memperjuangkan kepentingan masyarakat Dayak sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Tengah dalam pemerintahan Indonesia.
Perjalanan hidup Christian Simbar tidak hanya diwarnai semangat perjuangan, tetapi juga keberanian mengambil risiko. Ia dikenal sebagai pemimpin Tentara Lawung sekaligus tokoh Gerakan Mandau Talawang Pancasila yang memperjuangkan pembentukan provinsi baru agar masyarakat Dayak memiliki ruang pemerintahan yang lebih mandiri.
Dalam berbagai catatan sejarah disebutkan, perjuangan tersebut lebih mengedepankan aspirasi politik daerah daripada kepentingan kelompok tertentu.
Salah satu pernyataan yang banyak dikutip mengenai sikap gerakan yang dipimpinnya menyebutkan bahwa, “Tentara Lawung lebih memilih perjuangan politik tanpa mengikut sertakan embel-embel agama.” Pernyataan itu menggambarkan arah perjuangan yang menitikberatkan pada pembentukan daerah otonom bagi masyarakat Kalimantan Tengah.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil ketika Provinsi Kalimantan Tengah resmi dibentuk pada 23 Mei 1957. Namun, setelah tujuan tersebut tercapai, nama Christian Simbar justru perlahan menghilang dari ruang publik. Ia menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan hingga akhirnya meninggal dunia di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Desember 1992 akibat penyakit gastritis kronis. Jenazahnya kemudian dipindahkan dan dimakamkan kembali di kampung halamannya, Desa Madara.
Meski sempat terlupakan, berbagai kalangan kini mulai mengangkat kembali kisah perjuangan Christian Simbar sebagai bagian dari sejarah Kalimantan Tengah.
Salah satu ungkapan yang sering dikutip dari keluarga menyatakan, “Pemerintah melupakan akar perjuangan mereka sendiri.” Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa banyak pejuang daerah belum memperoleh penghargaan yang sepadan atas jasa mereka.
Kini, makam Christian Simbar di Desa Madara menjadi salah satu simbol penghormatan terhadap sosok yang turut mengawal lahirnya Kalimantan Tengah. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa sejarah daerah dibangun oleh keberanian, pengorbanan, dan keteguhan orang-orang yang memilih berjuang meski tidak selalu memperoleh pengakuan yang layak.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








