Palangka Raya – Kebakaran yang melanda permukiman padat penduduk di Jalan Murjani, Gang Sari 45, kawasan Puntun, Kota Palangka Raya, Minggu (12/7/2026), kembali menyisakan kisah pilu bagi para korban. Di antara mereka, Rukiyah (63) harus menghadapi kenyataan pahit setelah rumah yang ditempatinya bersama sang suami hangus dilalap api. Peristiwa ini menjadi luka lama yang kembali terbuka, karena 26 tahun silam rumah orang tuanya juga musnah akibat kebakaran.
Bagi Rukiyah, kobaran api yang menghanguskan rumahnya bukan sekadar kehilangan harta benda. Peristiwa itu membangkitkan kembali kenangan kelam yang pernah dialaminya pada tahun 2000, ketika rumah orang tuanya ikut rata dengan tanah akibat kebakaran.
Kini, di usia senja, ia kembali harus memulai hidup dari awal. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat bernaung bersama sang suami tidak lagi tersisa, menyisakan puing-puing dan kenangan yang sulit dilupakan.
“Saya tidak pernah menyangka harus mengalami musibah seperti ini untuk kedua kalinya. Dulu rumah orang tua habis terbakar, sekarang rumah kami sendiri juga tidak bisa diselamatkan,” ujar Rukiyah dengan mata berkaca-kaca.
Saat api membesar, Rukiyah dan suaminya hanya mampu menyelamatkan diri. Dalam hitungan menit, kobaran api menjalar dengan cepat ke seluruh bagian rumah yang berada di kawasan permukiman padat penduduk tersebut.
Mereka hanya bisa berdiri menyaksikan api melahap bangunan yang selama ini menjadi tempat mereka membangun kehidupan bersama.
“Kami hanya bisa melihat rumah itu terbakar. Tidak ada yang sempat kami selamatkan selain diri kami sendiri,” kata Rukiyah.
Musibah kebakaran di kawasan Puntun ini kembali mengingatkan besarnya risiko kebakaran di lingkungan permukiman yang berhimpitan. Ketika api mulai membesar, kobaran dengan cepat merambat ke bangunan di sekitarnya sehingga proses penyelamatan menjadi semakin sulit.
Bagi Rukiyah, kehilangan rumah bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga hilangnya berbagai kenangan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Di rumah sederhana itulah ia dan suaminya menjalani kehidupan sehari-hari serta menyusun harapan untuk menikmati masa tua dengan tenang.
Peristiwa tersebut juga mengundang keprihatinan warga sekitar yang berupaya memberikan bantuan kepada para korban. Sejumlah warga ikut membantu proses evakuasi dan berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diambil sebelum api membesar.
Meski harus menerima kenyataan pahit untuk kedua kalinya, Rukiyah berusaha tetap tegar menghadapi cobaan tersebut. Ia berharap dapat kembali memiliki tempat tinggal agar bisa melanjutkan kehidupan bersama suaminya.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








