Jakarta — Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendorong insan pers untuk mengemas pemberitaan dengan pendekatan yang lebih kreatif dan ringan, guna meningkatkan keterjangkauan informasi kepada masyarakat luas.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan bahwa perubahan pola konsumsi informasi menuntut media untuk beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
“Penyajian informasi perlu lebih ringan dan kreatif, tetapi tetap harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya dalam kegiatan peluncuran program Public Service Obligation (PSO) bidang pers di Jakarta.
Ia menjelaskan, pendekatan kreatif dapat dilakukan melalui penguatan storytelling, penggunaan visual yang menarik, hingga pemanfaatan berbagai platform digital agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami masyarakat.
Namun demikian, Fifi mengingatkan bahwa inovasi dalam penyajian berita tidak boleh mengorbankan kualitas dan kredibilitas informasi. Menurutnya, media tetap memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kepercayaan publik.

“Substansi tetap menjadi hal utama. Kreativitas adalah cara untuk memperkuat penyampaian, bukan menggantikan kebenaran informasi,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama LKBN Antara, Benny Siga Butarbutar, menyampaikan bahwa program PSO pers menjadi sarana strategis untuk memperluas distribusi informasi berkualitas hingga ke daerah.

Ia menyebut, kolaborasi antara pemerintah dan media melalui PSO diharapkan mampu memperkuat narasi pembangunan nasional, sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang relevan, edukatif, dan berimbang.
“PSO pers bukan hanya soal distribusi informasi, tetapi juga memastikan pesan pembangunan dapat diterima dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Benny.
Ke depan, Kemkomdigi menargetkan program PSO pers dapat berjalan lebih adaptif, komunikatif, serta berdampak nyata dalam meningkatkan literasi informasi publik di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang.




