Di tepian Sungai Baringei yang mengalir tenang di wilayah Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, berdiri sebuah rumah betang tua yang seolah menyimpan ribuan cerita. Kayu-kayu tuanya masih kokoh menahan waktu, sementara ukiran di sudut-sudut bangunan menjadi saksi perjalanan panjang sebuah komunitas adat yang menolak dilupakan.
Di sinilah kisah Tumbang Malahoi bermula. Bukan sekadar nama sebuah desa, melainkan penanda perjalanan leluhur yang berpindah dari tanah asal mereka di kawasan Malahoi atau Malawi, wilayah yang kini termasuk Kalimantan Barat, menuju pedalaman Kalimantan Tengah.
Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, leluhur Tumbang Malahoi berangkat mencari kehidupan yang lebih aman dan tenteram. Salah satu tokoh yang dikenal dalam kisah itu adalah Ongko Langi, yang membuka perjalanan menuju wilayah Bukit Riwut di antara Sungai Samba dan Sungai Manuhing.
Dari garis keturunan Nyai Mulung dan Umban Bulau kemudian lahir generasi-generasi yang menyebar ke berbagai daerah aliran sungai di Kalimantan Tengah. Salah satu keturunannya, Bira Dandan, dipercaya berperan penting dalam menentukan lokasi permukiman yang kemudian menjadi Tumbang Malahoi.
“Cara yang ditempuh oleh Bira Dandan adalah manajah antang, meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa untuk menentukan tempat tinggal yang tepat,” demikian tertulis dalam dokumentasi sejarah masyarakat adat Tumbang Malahoi.
Petunjuk itu mengarah ke tepi Sungai Baringei. Nama “Malahoi” sengaja dipertahankan sebagai pengingat kampung asal. Bahkan, menurut cerita, segumpal tanah dan air dari daerah asal turut dibawa agar kehidupan di tempat baru tetap menyimpan ikatan batin dengan leluhur mereka.
Setelah menetap, seorang tokoh bernama Toyoi menggerakkan keluarga dan kerabatnya membangun rumah betang. Proses pengumpulan bahan bangunan memakan waktu hingga tiga tahun dan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dari berbagai wilayah sekitar.
Hasilnya adalah Betang Toyoi, rumah adat yang diperkirakan berdiri sejak 1869 dan masih menjadi simbol identitas masyarakat Tumbang Malahoi hingga kini.
“Betang Toyoi menjadi bukti bahwa kehidupan komunal dan gotong royong telah mengakar kuat dalam masyarakat Dayak sejak lama,” tulis dokumentasi sejarah desa tersebut.
Tumbang Malahoi tidak hanya dikenal karena warisan budayanya. Desa ini juga tercatat dalam kisah perjuangan melawan penjajahan Belanda. Tokoh Bungai, yang berasal dari wilayah ini, dipercaya mendapat gelar Temanggung Singa Pati dari Sultan Muhammad Seman untuk memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda.
Jejak perjuangan itu masih hidup dalam ingatan masyarakat. Sungai Baringei bahkan memiliki sebutan khusus, Batang Danum Riak Jamban Raja, sebagai pengingat hubungan sejarah dengan para tokoh perjuangan masa lalu.
Kini, ketika modernisasi terus merambah pedalaman Kalimantan, Tumbang Malahoi tetap berdiri sebagai pengingat bahwa sebuah kampung tidak hanya dibangun oleh rumah dan jalan, tetapi juga oleh ingatan kolektif, tradisi, dan keberanian menjaga identitas. Di tengah perubahan zaman, pertanyaannya sederhana: sampai kapan kisah-kisah leluhur seperti ini akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya?
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









