Jakarta – Rencana Indonesia memiliki kapal induk pertama semakin mendekati kenyataan. Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia diproyeksikan memperkuat armada TNI Angkatan Laut (TNI AL), sekaligus menjadi tonggak baru dalam modernisasi pertahanan maritim nasional. Meski bukan kapal induk kelas berat seperti milik Amerika Serikat, kapal ini dinilai memiliki kemampuan yang signifikan untuk mendukung operasi militer, patroli laut, hingga misi kemanusiaan.
Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk ringan (light aircraft carrier) yang dibangun galangan kapal Fincantieri untuk Angkatan Laut Italia. Kapal sepanjang sekitar 180 meter itu telah bertugas selama puluhan tahun sebelum akhirnya diputuskan menjadi bagian dari penguatan armada Indonesia melalui skema hibah dan modifikasi.
Kapal ini memiliki dek penerbangan yang mampu mengoperasikan berbagai jenis helikopter militer. Setelah dimodifikasi, Garibaldi juga diproyeksikan dapat mengoperasikan pesawat tanpa awak (drone) sebagai bagian dari konsep peperangan modern yang kini berkembang di berbagai negara.
Selain menjadi pangkalan udara terapung, kapal induk tersebut dapat berfungsi sebagai pusat komando operasi laut, pengendali misi gabungan, hingga sarana evakuasi dalam operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Pengamat pertahanan Gerry Soejatman menilai kemampuan kapal induk harus dipahami berdasarkan kelas dan fungsi operasionalnya, bukan sekadar ukuran.
“Kita perlu membagi dua kategori kapal induk, yaitu yang dapat beroperasi sebagai kekuatan utama sepenuhnya dengan kemampuan air wings yang mumpuni, untuk gelar operasi dan ada jenis light aircraft carrier seperti ITS Giuseppe Garibaldi masuk dalam kelas ini.“
Menurut Gerry, Garibaldi sejak awal memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Italia dalam melaksanakan operasi cepat di kawasan perairannya. Karena itu, ketika dioperasikan Indonesia, konsep penggunaannya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan strategis nasional, bukan meniru pola operasi kapal induk berukuran besar milik negara adidaya.
Sementara itu, pemerintah memastikan kapal tersebut tidak langsung dioperasikan setelah tiba di Indonesia. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan Garibaldi akan menjalani proses penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan TNI AL.
“Insyaallah Garibaldi akan datang di Indonesia tahun 2026 tapi kita akan merapikan karena kita punya industri PT PAL mampu untuk merapikan (kapal induk).“
Modifikasi yang dilakukan PT PAL Indonesia diharapkan mencakup penyesuaian sistem tempur, fasilitas pendukung, hingga integrasi teknologi yang kompatibel dengan kebutuhan operasi pertahanan Indonesia.
Kehadiran Garibaldi juga dipandang memiliki nilai strategis dalam memperkuat kemampuan proyeksi kekuatan maritim Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan wilayah laut yang sangat luas, keberadaan kapal induk ringan diyakini dapat meningkatkan efektivitas pengawasan perairan, mendukung operasi gabungan lintas matra, serta mempercepat respons terhadap berbagai ancaman di kawasan.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa efektivitas kapal induk tidak hanya ditentukan oleh platform kapalnya, tetapi juga kesiapan armada pendukung, sistem logistik, pesawat atau drone yang dioperasikan, serta anggaran operasional jangka panjang. Karena itu, keberhasilan pengoperasian Giuseppe Garibaldi akan sangat bergantung pada strategi pertahanan yang diterapkan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






