SAMPIT – Fakta keras terungkap dalam reses DPRD Kalimantan Tengah di Mentaya Seberang: warga masih bergantung penuh pada sungai, namun pengelolaannya belum menjadi prioritas serius.
Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Wengga Febri Dwi Tananda, mengakui bahwa potensi sungai di wilayah tersebut sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
“Pemanfaatan sungai, khususnya untuk transportasi perairan, masih perlu ditingkatkan agar bisa mendukung aktivitas masyarakat,” ujar Wengga.
Potensi Besar, Kebijakan Masih Setengah Jalan
Sungai Mentaya selama ini menjadi urat nadi mobilitas warga—mulai dari aktivitas ekonomi hingga transportasi harian.
Namun kondisi di lapangan menunjukkan ketimpangan serius:
- Infrastruktur dermaga belum memadai
- Sistem transportasi air belum tertata
- Pengelolaan belum terintegrasi
Wengga menilai, tanpa perencanaan yang matang, potensi besar ini akan terus berjalan tanpa arah.
“Kalau dikelola dengan baik, sungai bisa menjadi jalur strategis untuk mendorong ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Ketergantungan Tinggi, Fasilitas Tertinggal
Di Mentaya Seberang, sungai bukan pilihan—
melainkan kebutuhan utama.
Namun ironisnya, fasilitas yang tersedia justru tertinggal jauh dari kebutuhan warga. Kondisi ini memperlihatkan lemahnya perhatian terhadap transportasi berbasis perairan.
Reses Jadi Cermin Masalah Lama
Dalam forum tersebut, warga kembali menyuarakan aspirasi yang sama: peningkatan transportasi air dan penguatan infrastruktur sungai.
Namun persoalan ini bukan hal baru.
Reses kembali menjadi ruang pengulangan keluhan, sementara realisasi di lapangan masih minim.
Wengga Dorong Tindak Lanjut, Warga Tunggu Bukti
Wengga memastikan bahwa seluruh aspirasi masyarakat akan dibawa ke pembahasan lebih lanjut di DPRD.
“Aspirasi masyarakat ini akan kami tampung dan dorong agar menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan,” ujarnya.
Meski demikian, masyarakat kini tidak hanya ingin didengar—
mereka menuntut langkah nyata.
Sungai Mentaya: Aset Besar atau Potensi Terabaikan?
Sungai Mentaya memiliki potensi besar sebagai jalur transportasi murah dan efektif.
Namun tanpa keseriusan pengelolaan:
- Konektivitas akan tetap tertinggal
- Biaya logistik tetap tinggi
- Ekonomi lokal sulit berkembang
Kini sorotan tertuju pada pemerintah dan DPRD:
apakah sungai akan benar-benar dihidupkan sebagai solusi, atau terus dibiarkan sebagai potensi yang terabaikan?







