PALANGKA RAYA – Di tengah ambisi besar pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah justru masih berada pada tahap krusial: menghitung kebutuhan petugas di lapangan.
Angka sementara menyebut sekitar 2.500 petugas, namun hingga kini belum ada kepastian final.
“Sekitar 2.500-an, tapi belum pasti, masih bisa berubah,” ungkap Kepala BPS Kalteng.
Sensus Besar, Perhitungan Masih Berjalan
SE2026 akan menjangkau seluruh pelaku usaha di Kalteng—dari skala kecil hingga besar. Namun ironisnya, jumlah personel yang menjadi tulang punggung kegiatan ini masih belum dipastikan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan:
apakah perencanaan sudah benar-benar matang?
Risiko Nyata di Lapangan
Ketidakpastian jumlah petugas bukan sekadar angka administratif. Dampaknya bisa langsung terasa di lapangan:
- Pendataan tidak merata antarwilayah
- Beban kerja petugas tidak seimbang
- Potensi data tidak akurat
Dalam sensus, kualitas SDM = kualitas data.
Jika jumlah dan distribusi petugas tidak tepat, maka hasil sensus berisiko bias.
“Pejuang Data” di Tengah Tekanan Waktu
Para petugas nantinya akan menjadi ujung tombak pendataan—turun langsung ke lapangan, menghadapi berbagai kondisi wilayah, hingga memastikan setiap usaha tercatat.
Namun dengan waktu pelaksanaan yang relatif singkat (Mei–Agustus 2026), tekanan terhadap petugas akan sangat tinggi.
Pertanyaannya:
apakah rekrutmen dan pelatihan bisa mengejar waktu?
Ambisi Besar, Tantangan Nyata
SE2026 bukan sekadar proyek statistik—ini adalah dasar kebijakan ekonomi nasional dan daerah.
Namun di balik ambisi besar tersebut, masih ada pekerjaan rumah:
- Finalisasi kebutuhan SDM
- Distribusi petugas yang merata
- Jaminan kualitas data
Jika ini tidak diselesaikan dengan baik, maka sensus berisiko menghasilkan data yang tidak presisi.
Kunci Ada di Persiapan, Bukan Sekadar Target
Sensus ekonomi bukan hanya soal jumlah petugas, tetapi soal kesiapan menyeluruh.
Jika perencanaan matang → data kuat → kebijakan tepat.
Jika perencanaan lemah → data bias → kebijakan meleset.
Kini, sorotan publik tertuju pada satu hal:
apakah SE2026 akan menjadi fondasi kuat ekonomi, atau justru menyisakan celah baru dalam data pembangunan?






