Panglima Batur: Perlawanan Terakhir di Hulu Barito yang Menutup Perang Banjar

oleh
Panglima Batur - Ilustrasi

PALANGKA RAYA – Di hulu Sungai Barito, jauh dari pusat kekuasaan kolonial, perlawanan terhadap Belanda tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya berubah bentuk—dari perang terbuka menjadi gerilya yang senyap, dari kerajaan menjadi jaringan perlawanan berbasis komunitas. Dalam fase inilah, nama Panglima Batur muncul sebagai figur kunci yang memperpanjang napas terakhir Perang Banjar hingga awal abad ke-20.

Perang yang Tidak Pernah Selesai

Secara formal, Belanda mengklaim Perang Banjar (1859–1905) telah berakhir seiring runtuhnya struktur Kesultanan Banjar. Namun di lapangan, perang justru bertransformasi.

Naufal Nabila Motor1

Di wilayah pedalaman—khususnya sepanjang aliran Barito—perlawanan berlanjut tanpa pusat komando tunggal. Tokoh-tokoh lokal mengambil alih peran, membangun kantong-kantong resistensi yang sulit dijangkau.

Di sinilah Panglima Batur memainkan peran strategis. Ia bukan sekadar pemimpin lokal, melainkan penghubung antara jaringan Dayak pedalaman dan sisa kekuatan Kesultanan Banjar di bawah Sultan Muhammad Seman.

Aliansi Dayak–Banjar: Politik yang Jarang Dibaca

Salah satu aspek paling penting—dan kerap terlewat—dalam sejarah ini adalah terbentuknya aliansi antara masyarakat Dayak dan elite Banjar.

banner 336x280

Panglima Batur, seorang Dayak Bakumpai yang telah memeluk Islam, menjadi simbol dari persilangan identitas tersebut. Ia membuktikan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak dibatasi oleh etnis, melainkan disatukan oleh kepentingan yang sama: mempertahankan kedaulatan wilayah.

Aliansi ini memberi kekuatan baru. Jaringan Dayak menyediakan penguasaan medan dan logistik, sementara struktur Banjar memberikan legitimasi politik dan arah perlawanan.

banner 336x280

Strategi Gerilya di Jantung Hutan

Berbeda dengan perang konvensional, perlawanan di Barito mengandalkan mobilitas dan pengetahuan lokal. Jalur sungai menjadi urat nadi, sementara hutan berfungsi sebagai benteng alami.

Panglima Batur memimpin dengan pendekatan ini: serangan cepat, perpindahan posisi, dan pemanfaatan wilayah yang tidak dikenal oleh pasukan kolonial.

Namun keunggulan itu tidak cukup untuk menghadapi modernisasi militer Belanda. Masuknya pasukan elite seperti marsose—dengan persenjataan lebih maju dan taktik kontra-gerilya—mulai mengikis kekuatan perlawanan.

1905: Tahun Penentuan

Tahun 1905 menjadi titik balik. Dalam serangkaian operasi militer, Belanda berhasil menghantam basis perlawanan di pedalaman.

Pertempuran besar menewaskan Sultan Muhammad Seman—tokoh sentral yang selama ini menjadi simbol legitimasi perjuangan. Kehilangan ini bukan sekadar kekalahan militer, tetapi juga pukulan psikologis bagi jaringan perlawanan.

Panglima Batur tetap bertahan, namun ruang geraknya semakin sempit. Dalam kondisi terdesak, ia akhirnya tertangkap—bukan dalam pertempuran terbuka, melainkan melalui tipu daya, sebuah metode yang kerap digunakan kolonial untuk menundukkan perlawanan lokal.

Ia kemudian dibawa ke Banjarmasin dan dijatuhi hukuman mati. Eksekusi tersebut menandai berakhirnya fase panjang perang yang telah berlangsung hampir setengah abad.

Membaca Ulang Sejarah dari Pinggiran

Kisah Panglima Batur mengungkap satu hal penting: sejarah perlawanan Indonesia tidak selalu ditentukan di pusat, tetapi sering kali dipertahankan di pinggiran—di wilayah yang jauh dari arsip dan dokumentasi resmi.

Minimnya catatan kolonial tentang dirinya bukan berarti perannya kecil. Sebaliknya, hal itu mencerminkan karakter perlawanan di Kalimantan: tersebar, fleksibel, dan sulit dikendalikan.

Warisan yang Terlupakan, Namun Menentukan

Hari ini, Panglima Batur belum sepenuhnya menempati posisi yang setara dengan tokoh-tokoh nasional dalam historiografi arus utama. Namun di Kalimantan, ia tetap hidup sebagai simbol keberanian dan ketahanan masyarakat lokal.

Ia adalah representasi dari fase terakhir sebuah perang panjang—fase ketika perlawanan tidak lagi tentang kemenangan, tetapi tentang mempertahankan martabat hingga akhir.

Dalam konteks itu, Panglima Batur bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun bukan hanya oleh peristiwa besar, tetapi juga oleh perjuangan-perjuangan sunyi di pedalaman.

banner 336x280