Tumenggung Surapati, Panglima Dayak Perang Banjar

oleh

Kalimantan Tengah – Di tengah derasnya arus sejarah perjuangan melawan penjajahan Belanda di Kalimantan, nama Tumenggung Surapati tetap dikenang sebagai sosok pemimpin Dayak yang berdiri teguh di garis depan perlawanan. Keberaniannya dalam membela tanah leluhur menjadikannya salah satu tokoh penting dalam Perang Banjar yang mewarnai sejarah Kalimantan pada abad ke-19.

Bagi masyarakat Dayak di wilayah pedalaman, Tumenggung Surapati bukan sekadar kepala suku. Ia adalah pemimpin yang mampu menyatukan kekuatan masyarakat adat ketika ancaman kolonial mulai memasuki wilayah-wilayah yang selama ini menjadi ruang hidup mereka.

banner 336x280

Dikenal pula dengan nama Kiai Dipati Jaya Raja, Tumenggung Surapati memimpin komunitas Dayak Bakumpai-Siang di kawasan Dusun Ulu, Murung, dan Siang. Ketika Pangeran Antasari mengobarkan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda, ia memilih berada di pihak rakyat yang memperjuangkan kemerdekaan dan martabat bangsanya.

“Ia merupakan kepala suku Dayak Bakumpai-Siang yang memihak kepada Pangeran Antasari,” demikian tercatat dalam berbagai sumber sejarah yang mengulas perjalanan hidup Tumenggung Surapati.

Dari Pemimpin Adat Menjadi Panglima Perang

Perjalanan hidup Tumenggung Surapati berubah ketika konflik antara rakyat Banjar dan pemerintah kolonial semakin meluas. Kepercayaan masyarakat kepadanya membuat ia tidak hanya menjalankan peran sebagai pemimpin adat, tetapi juga tampil sebagai panglima perang.

Dalam Perang Barito yang menjadi bagian dari rangkaian Perang Banjar, Tumenggung Surapati memimpin perlawanan bersama para pejuang dari berbagai wilayah pedalaman Kalimantan. Di tengah keterbatasan persenjataan, semangat mempertahankan tanah air menjadi kekuatan utama mereka.

“Ia menjadi panglima perang dalam Perang Barito yang merupakan bagian dari Perang Banjar,” tulis catatan sejarah mengenai kiprah tokoh tersebut.

Kehadirannya memperlihatkan bahwa perjuangan melawan kolonialisme bukan hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan Kesultanan Banjar, tetapi juga mendapat dukungan kuat dari masyarakat adat Dayak. Dukungan itu menjadi simbol persatuan lintas kelompok dalam menghadapi penjajahan.

Warisan yang Tetap Hidup

Selain dikenal sebagai pejuang, Tumenggung Surapati juga memiliki hubungan keluarga dengan Sultan Muhammad Seman, penerus perjuangan Kesultanan Banjar setelah wafatnya Pangeran Antasari. Hubungan tersebut semakin memperkuat keterikatannya dengan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan.

Meski telah wafat pada tahun 1875, nama Tumenggung Surapati masih hidup dalam ingatan masyarakat. Kisah keberanian, kesetiaan, dan pengorbanannya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menghargai sejarah serta menjaga persatuan. Hingga kini, Tumenggung Surapati tetap dikenang sebagai panglima Dayak yang mengabdikan hidupnya untuk perjuangan rakyat Kalimantan dan Perang Banjar.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.