Nahunan, Saat Nama Menjadi Doa bagi Anak Dayak

oleh
Nahunan adalah ritual pemberian nama dalam tradisi Dayak Ngaju yang dilaksanakan ketika anak berusia sekitar satu hingga dua tahun sebagai bentuk doa, syukur, dan pengenalan kepada masyarakat.

Suara gong terdengar pelan dari sudut rumah betang. Di tengah lingkaran keluarga yang berkumpul, seorang bayi digendong dengan hati-hati. Wajahnya masih polos, belum memahami mengapa banyak mata tertuju kepadanya hari itu. Namun bagi masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, momen tersebut bukan sekadar acara keluarga. Hari itu, seorang anak sedang diperkenalkan kepada dunia.

Prosesi itu dikenal sebagai Nahunan, sebuah ritual pemberian nama yang telah diwariskan turun-temurun dalam tradisi Kaharingan. Di balik rangkaian sesajen, doa, dan simbol adat yang menyertainya, tersimpan harapan besar agar sang anak tumbuh sehat, selamat, dan membawa kebaikan bagi keluarga maupun komunitasnya.

banner 336x280

Ketika Nama Bukan Sekadar Panggilan

Bagi masyarakat Dayak Ngaju, nama bukan hanya identitas administratif. Nama dianggap sebagai bagian dari perjalanan spiritual seseorang.

Tradisi Nahunan umumnya dilaksanakan ketika anak berusia sekitar satu hingga dua tahun. Kata “Nahunan” sendiri berasal dari kata nahun yang berarti tahun. Dalam ritual ini, seorang anak secara resmi menerima nama yang akan dikenalnya sepanjang hidup.

Selain pemberian nama, ritual tersebut juga menjadi ungkapan syukur atas kelahiran anak dan penghormatan kepada mereka yang membantu proses persalinan. Berbagai perlengkapan adat disiapkan, mulai dari hewan kurban, manik-manik, batang sawang, hingga beras tawur yang memiliki makna simbolis dalam kepercayaan Kaharingan.

Nahunan bukan hanya memberi nama, tetapi juga memperkenalkan anak kepada leluhur, keluarga, dan masyarakatnya,” ujar sejumlah budayawan Dayak dalam berbagai kajian mengenai ritual tersebut. Makna sosial inilah yang membuat tradisi tersebut tetap bertahan hingga kini.

Menjaga Keseimbangan dengan Alam

Ada hal menarik yang kerap luput dari perhatian. Dalam beberapa pelaksanaan Nahunan, keluarga menanam pohon sawang di sekitar rumah sebagai bagian dari prosesi adat. Tindakan sederhana itu mencerminkan cara pandang masyarakat Dayak yang menempatkan manusia dan alam sebagai satu kesatuan.

banner 1200x630

“Alam dipandang sebagai bagian dari keluarga yang harus dijaga dan dihormati,” demikian salah satu nilai yang banyak dibahas dalam penelitian mengenai ritual Nahunan. Nilai tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktik adat yang hidup di tengah masyarakat.

Bukan kebetulan jika masyarakat Dayak Ngaju meyakini keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta harus terus dirawat. Nahunan menjadi salah satu ruang untuk mengingatkan kembali hubungan tersebut.

Warisan yang Tetap Bernapas

Di era ketika banyak tradisi perlahan menghilang, Nahunan justru masih bertahan. Ritual ini bahkan telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern.

Kini, di berbagai pelosok Kalimantan Tengah, Nahunan tetap digelar. Anak-anak mungkin tumbuh dengan telepon pintar di tangan dan dunia digital di depan mata. Namun ketika tiba waktunya menerima nama dalam adat, mereka tetap dipeluk oleh tradisi yang sama seperti yang dijalani leluhur mereka puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Barangkali di situlah kekuatan sebuah budaya berada. Bukan karena ia menolak perubahan, melainkan karena ia mampu berjalan berdampingan dengan zaman tanpa kehilangan makna.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *