Karungut, Suara Lama yang Masih Bergema di Tanah Dayak

oleh
Karungut merupakan seni sastra lisan khas Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Tradisi ini menjadi media penyampai sejarah, nasihat, dan identitas budaya yang masih bertahan hingga kini.

Di sebuah rumah betang di pedalaman Kalimantan Tengah, malam turun perlahan. Lampu-lampu mulai redup, sementara sekelompok warga duduk melingkar. Tak ada pengeras suara, tak ada panggung megah. Hanya suara seorang tetua yang mengalun, melantunkan syair panjang dengan irama khas yang menghipnotis siapa pun yang mendengarnya.

Itulah Karungut, seni bertutur masyarakat Dayak Ngaju yang telah hidup selama berabad-abad. Bukan sekadar nyanyian, Karungut adalah cara orang Dayak menyimpan cerita, nasihat, sejarah, hingga nilai kehidupan dalam untaian syair yang dinyanyikan.

Di tengah derasnya arus budaya digital, suara Karungut masih terdengar di berbagai acara adat, festival budaya, hingga panggung seni modern. Ia menjadi pengingat bahwa identitas sebuah masyarakat tidak hanya tersimpan dalam bangunan atau benda bersejarah, tetapi juga dalam suara dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karungut, Sastra Lisan yang Menjadi Penjaga Ingatan

Karungut dikenal sebagai bentuk sastra lisan tradisional masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Penyampai Karungut, yang disebut pengarungut, membawakan syair dengan nada khas sambil menyampaikan pesan-pesan moral, kisah kepahlawanan, percintaan, hingga kritik sosial.

Budayawan Dayak, almarhum KMA Usop, pernah menyebut Karungut sebagai salah satu warisan budaya yang berfungsi menjaga identitas masyarakat Dayak.

Karungut bukan hanya hiburan, tetapi media pendidikan dan penyampai nilai-nilai kehidupan masyarakat Dayak,” ujarnya dalam berbagai kajian budaya Dayak.

Dahulu, ketika akses pendidikan dan media informasi masih terbatas, Karungut menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat. Lewat syair yang mudah diingat, pesan-pesan penting dapat bertahan lama dalam ingatan pendengarnya.

Dari Rumah Betang ke Panggung Modern

Seiring perkembangan zaman, Karungut mengalami transformasi. Jika dahulu hanya dibawakan dalam lingkungan adat atau keluarga besar, kini Karungut mulai tampil dalam festival budaya, acara pemerintahan, hingga media digital.

Seniman Karungut Kalimantan Tengah, salah satunya dikenal melalui karya-karya almarhum Nansarunai, menunjukkan bahwa tradisi ini mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.

Karungut harus terus hidup mengikuti perkembangan zaman, tetapi ruh dan pesan budayanya tidak boleh hilang,” kata sejumlah pegiat budaya Dayak yang terus mendorong regenerasi seniman muda.

Perubahan tersebut membuat Karungut semakin dikenal oleh generasi muda yang sebelumnya lebih akrab dengan musik modern dibandingkan sastra lisan tradisional.

Menjaga Suara yang Menyimpan Jati Diri

Bagi masyarakat Dayak, Karungut bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah ruang untuk mengenang leluhur, menyampaikan petuah, sekaligus merawat bahasa daerah yang perlahan menghadapi tantangan zaman.

Di Kalimantan Tengah saat ini, berbagai komunitas budaya, sekolah, dan pemerintah daerah mulai memasukkan Karungut dalam kegiatan pelestarian budaya. Upaya tersebut menjadi penting ketika banyak tradisi lisan di berbagai daerah mulai kehilangan penuturnya.

Malam mungkin akan terus berganti. Teknologi akan semakin canggih. Namun ketika suara Karungut kembali mengalun di sebuah rumah betang atau panggung budaya, selalu ada cerita lama yang hidup kembali. Pertanyaannya, apakah generasi hari ini masih mau duduk sejenak untuk mendengarkannya?

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.