Lawang Sakepeng, Gerbang Kehormatan Dayak Ngaju

oleh
Lawang Sakepeng merupakan tradisi Dayak Ngaju yang memadukan seni silat, adat pernikahan, dan filosofi kehidupan yang masih lestari di Kalimantan Tengah.

Suara gong menggema pelan, disusul dentuman gendang yang semakin cepat. Di bawah sebuah gapura berhias daun kelapa muda dan ukiran burung enggang, dua pesilat saling berhadapan. Gerak mereka lincah, sesekali menghentakkan kaki ke tanah, lalu mengayunkan tangan dengan ritme yang selaras. Bagi yang baru pertama menyaksikan, atraksi itu tampak seperti pertarungan. Padahal, tak ada permusuhan di sana.

Di Kalimantan Tengah, atraksi tersebut dikenal sebagai Lawang Sakepeng, salah satu tradisi khas masyarakat Dayak Ngaju yang hingga kini masih menjadi bagian penting dalam upacara adat, terutama penyambutan tamu kehormatan dan prosesi pernikahan. Lebih dari sekadar pertunjukan silat, Lawang Sakepeng merupakan simbol penghormatan, persatuan, sekaligus doa agar perjalanan hidup terbebas dari berbagai rintangan.

Dalam bahasa Dayak Ngaju, lawang berarti pintu atau gapura, sedangkan sakepeng berarti satu keping. Gapura ini menjadi batas simbolis yang harus dilewati setelah serangkaian atraksi silat selesai dilakukan.

Gerakan dalam Lawang Sakepeng berkembang dari seni bela diri tradisional atau kuntau Dayak yang diperkaya pengaruh pencak silat Nusantara. Dahulu, gerakannya terinspirasi dari pengamatan masyarakat terhadap tingkah laku satwa hutan, terutama bangkui atau beruk, yang dikenal lincah dan tangkas. Seiring waktu, unsur bela diri itu berpadu dengan seni tari sehingga menjadi pertunjukan adat yang sarat makna.

Lawang Sakepeng bukan sekadar pertunjukan, tetapi warisan budaya Suku Dayak Ngaju yang sarat makna dan filosofi kehidupan,” demikian penjelasan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Palangka Raya dalam ulasan budayanya pada 2026.

Bagian paling menarik dari prosesi ini adalah ketika para pesilat berusaha memutus tiga utas benang yang dipasang melintang di gapura.

Ketiga benang tersebut bukan sekadar hiasan. Masing-masing melambangkan harapan agar segala aral, hubungan yang tidak baik, serta mara bahaya yang mungkin menghadang kehidupan pasangan pengantin dapat diputus dan ditinggalkan. Setelah benang terakhir terputus, rombongan mempelai laki-laki dipersilakan memasuki area keluarga mempelai perempuan sebagai tanda diterimanya ikatan kedua keluarga.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Dewantara pada 2023 menyebutkan, “Apa pun rintangan yang dihadapi pengantin laki-laki dan perempuan akan dapat diselesaikan secara bersama-sama,” menjadi makna utama dari tiga benang yang diputus dalam prosesi Lawang Sakepeng.

Kini, Lawang Sakepeng tidak hanya tampil dalam pesta pernikahan adat. Atraksi ini juga menjadi bagian dari penyambutan tamu kenegaraan, Festival Budaya Isen Mulang, hingga berbagai agenda promosi pariwisata Kalimantan Tengah. Kehadirannya memperlihatkan bahwa tradisi dapat tetap hidup tanpa kehilangan jati dirinya.

Di balik gerakan silat yang memikat dan denting gong yang mengiringi, Lawang Sakepeng menyimpan pesan sederhana: setiap perjalanan menuju kehidupan baru selalu memiliki tantangan, tetapi dapat dilewati dengan keberanian, kebersamaan, dan saling menghormati.

Mungkin itulah alasan mengapa sebuah “pintu” dalam budaya Dayak Ngaju tidak pernah sekadar menjadi jalan masuk. Ia adalah pengingat bahwa setiap langkah menuju masa depan selalu dimulai dengan niat baik dan penghormatan kepada sesama.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.