Jejak Kampung Pahandut, Dari Dukuh Bayuh ke Palangka Raya

oleh
Menelusuri sejarah Kampung Pahandut, kampung tertua di tepian Sungai Kahayan yang menjadi cikal bakal Kota Palangka Raya. Berawal dari perjalanan Bayuh dan Kambang hingga lahirnya ibu kota Kalimantan Tengah.

Di tepian Sungai Kahayan yang mengalir tenang setiap pagi, kehidupan pernah bermula dari sebuah perahu kecil. Berabad lalu, sepasang suami istri bernama Bayuh dan Kambang menyusuri arus sungai mencari tanah yang lebih ramah untuk bercocok tanam. Mereka meninggalkan Lewu Rawi karena lahan di kampung asal dianggap kurang subur untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Perjalanan sederhana itu kelak menjadi awal lahirnya Kampung Pahandut, sebuah permukiman tua yang kemudian tumbuh menjadi cikal bakal Kota Palangka Raya. Di balik hiruk-pikuk ibu kota Kalimantan Tengah saat ini, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, perpindahan penduduk, dan hubungan manusia dengan alam sungai.

Setelah menemukan kawasan yang dianggap cocok untuk bertani dan berkebun, Bayuh dan Kambang mulai menetap. Kabar mengenai kesuburan wilayah tersebut cepat menyebar hingga menarik warga dari kampung-kampung sekitar untuk ikut bermukim. Lambat laun terbentuklah sebuah perkampungan yang dikenal sebagai Dukuh Bayuh. Dalam bahasa Dayak Ngaju, kawasan pemukiman itu disebut Eka Badukuh.

Kampung Pahandut adalah salah satu kampung tertua di daerah aliran Sungai Kahayan bagian hilir,” demikian dijelaskan dalam catatan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Palangka Raya.

Nama Pahandut sendiri diyakini berasal dari sosok yang dihormati masyarakat setempat, yakni Bapa Handut. Untuk mengenang tokoh tersebut, nama Dukuh Bayuh kemudian berubah menjadi Pahandut dan terus digunakan hingga kini.

Keberadaan Pahandut tidak bisa dipisahkan dari Sungai Kahayan. Sungai menjadi jalur transportasi, sumber pangan, sekaligus urat nadi ekonomi masyarakat. Hutan di sekitarnya menghasilkan getah jeletung, damar, rotan, hingga berbagai hasil hutan lainnya. Danau-danau di kawasan Sebangau dan Tundai juga menyediakan ikan yang melimpah bagi warga.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Kampung Pahandut telah dikenal sejak abad ke-19. Penjelajah Belanda Zacharias Hartman mencatat keberadaan kampung ini dalam perjalanannya menyusuri Sungai Kahayan pada 1823. Bahkan dalam Notulen Rapat Tumbang Anoi tahun 1894 disebutkan bahwa Pahandut telah memiliki delapan rumah betang yang dihuni puluhan keluarga Dayak.

Desa Pahandut merupakan salah satu desa yang dikunjungi dalam perjalanan menyusuri DAS Kahayan dan Kapuas,” tulis laporan sejarah yang mengutip catatan Hartman.

Ketika Kalimantan Tengah dibentuk sebagai provinsi pada 1957, Pahandut dipilih sebagai lokasi ibu kota baru. Keputusan itu tidak hanya mempertimbangkan letak geografis, tetapi juga nilai historis dan posisinya yang dianggap netral bagi berbagai kelompok masyarakat Dayak. Dari kampung sungai yang dihuni sekitar 900 jiwa, Pahandut kemudian berkembang menjadi Palangka Raya.

Kini, jejak kampung tua itu masih dapat dirasakan di sejumlah kawasan bantaran Sungai Kahayan. Rumah-rumah kayu, tradisi sungai, hingga cerita lisan masyarakat menjadi pengingat bahwa kota modern ini berakar dari sebuah perjalanan sederhana dua orang pencari harapan.

Di tengah pembangunan yang terus bergerak, kisah Kampung Pahandut seakan mengajak warga untuk sesekali menoleh ke belakang. Sebab sebelum menjadi pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi, Palangka Raya lebih dulu lahir dari keberanian menempuh arus sungai dan keyakinan menemukan tempat yang lebih baik untuk masa depan.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.