Tangis Iringi Pemakaman Korban Pembakaran di Kobar

oleh
Tangis keluarga iringi pemakaman Siti Juhairiyah, korban pembakaran di Kobar. Pelaku mantan suami siri kini menjalani proses hukum. - Ilustrasi-

Kotawaringin Barat – Duka mendalam menyelimuti keluarga Siti Juhairiyah (29), korban pembakaran yang diduga dilakukan mantan suami sirinya di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Isak tangis keluarga, kerabat, dan warga mengiringi prosesi pemakaman korban yang berlangsung di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Karang Mulya, Kecamatan Pangkalan Banteng, Senin (22/6/2026).

Siti mengembuskan napas terakhir setelah berjuang selama 10 hari menjalani perawatan intensif akibat luka bakar berat yang dideritanya. Kasus pembakaran di Kobar ini kembali menjadi sorotan publik karena meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, terutama anak semata wayangnya yang kini harus tumbuh tanpa kehadiran sang ibu.

Sebelum dimakamkan, jenazah Siti disemayamkan di rumah duka di RT 22 Desa Karang Mulya. Sejak siang hari, pelayat terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada perempuan muda tersebut.

Suasana haru menyelimuti lokasi pemakaman. Sejumlah anggota keluarga terlihat tak mampu menahan air mata saat jenazah diberangkatkan menuju TPU. Puluhan warga juga turut mengantar hingga ke liang lahat sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Kapolsek Pangkalan Banteng, Iptu Agung Sugiarto, menjelaskan bahwa sebelum dimakamkan, jenazah korban terlebih dahulu menjalani proses visum sebagai bagian dari kelengkapan berkas penyidikan terhadap tersangka.

Jenazah tadi siang divisum terlebih dahulu untuk melengkapi berkas pemeriksaan tersangka Sendi Ramadan. Setelah itu baru dibawa ke rumah duka dan sore harinya dimakamkan di TPU Desa Karang Mulya,” ujar Agung.

Siti meninggal dunia pada Senin dini hari setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Hanau, Kabupaten Seruyan. Sebelumnya, korban mengalami luka bakar hingga sekitar 80 persen tubuhnya dan sempat mendapatkan berbagai tindakan medis.

Direktur RSUD Hanau, dr Atet Kurniadi, membenarkan kabar meninggalnya korban setelah beberapa hari berada dalam kondisi kritis.

Rencana awal memang akan dibawa ke Lombok, tetapi karena biaya sangat besar, kemungkinan besar akan dimakamkan di Kalimantan saja,” kata Atet.

Awalnya, keluarga berencana memulangkan jenazah ke kampung halaman korban di Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Namun rencana tersebut batal setelah mempertimbangkan besarnya biaya pemulangan jenazah.

Wakil Ketua II DPRD Kotawaringin Barat, Sri Lestari, mengatakan bantuan dari para dermawan nantinya lebih difokuskan untuk membantu anak korban yang saat ini diasuh oleh kakek dan neneknya di Lombok.

Kami menyarankan agar almarhumah dimakamkan di Karang Mulya karena biaya pemulangan ke Lombok sangat besar. Bantuan yang terkumpul nantinya akan diberikan kepada anak almarhumah di Lombok,” ujarnya.

Kasus tragis ini bermula pada Sabtu (13/6/2026) malam di sebuah warung angkringan di Kilometer 63, Desa Karang Mulya, Kecamatan Pangkalan Banteng. Berdasarkan hasil penyelidikan, korban diduga lebih dahulu dipukul menggunakan sebatang kayu sebelum kemudian dibakar oleh mantan suami sirinya, Sendi Ramadan.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.