Katingan – Sosok Aipda Yudhi Perdana Putra menjadi perhatian publik setelah gugur saat menjalankan tugas dalam operasi pemberantasan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Selama sekitar 15 tahun mengabdi di Satuan Reserse Narkoba Polres Katingan, almarhum dikenal sebagai polisi yang berdedikasi tinggi, disiplin, dan konsisten memburu jaringan peredaran narkotika.
Kepergian Aipda Yudhi meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga rekan-rekan satu angkatannya di Kepolisian. Salah seorang yang mengenang sosok almarhum adalah Kapolsek Kumai, Ipda Kamalul Fahmi, yang merupakan teman satu angkatan pendidikan Bintara Polri Gelombang II Tahun 2005 dengan nama letting ZLD.
“Letting saya itu yang meninggal, Bang. Kami satu angkatan Bintara Gelombang II tahun 2005. Nama angkatan kami ZLD,” ujar Kamalul saat mengenang almarhum.
Menurut Kamalul, dirinya memiliki kedekatan emosional dengan Aipda Yudhi karena pernah bertugas selama kurang lebih satu dekade di Polsek Katingan Tengah. Bahkan, lokasi bentrokan yang menewaskan Aipda Yudhi merupakan kampung halamannya sendiri.
Sejak awal bertugas di Polres Katingan, Aipda Yudhi menghabiskan sebagian besar masa pengabdiannya di Satresnarkoba. Selama bertahun-tahun, ia terlibat dalam berbagai operasi penindakan dan berhasil mengungkap banyak kasus peredaran narkotika di wilayah hukum Polres Katingan.
Dedikasi panjang tersebut, menurut Kamalul, membuat almarhum menjadi target kelompok pelaku narkoba. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari personel Polsek Katingan Tengah, sejumlah pelaku diduga telah lama menyimpan dendam karena banyak anggota jaringan mereka berhasil ditangkap oleh Aipda Yudhi.
“Informasi terakhir yang saya terima, para pelaku memang mengincar beliau karena sudah banyak rekan mereka yang pernah ditangkap oleh almarhum dalam kasus narkoba,” ungkap Kamalul.
Di luar tugas sebagai anggota Polri, Aipda Yudhi dikenal aktif membina olahraga basket di Kabupaten Katingan. Ia juga memiliki jiwa wirausaha dengan mengelola usaha keramba ikan serta kebun sawit sebagai penopang ekonomi keluarganya.
“Beliau juga seorang wirausahawan. Punya usaha keramba ikan dan kebun sawit. Orangnya pekerja keras dan cukup sukses menjalankan usaha di luar tugasnya sebagai anggota Polri,” tutur Kamalul.
Bagi rekan-rekannya, Aipda Yudhi bukan hanya dikenal sebagai penyidik yang berani, tetapi juga sosok yang disiplin dan tidak pernah tersandung pelanggaran selama berdinas.
“Selama berdinas beliau baik, tidak pernah mendapat hukuman disiplin ataupun pelanggaran kode etik. Dedikasinya untuk institusi sangat luar biasa,” kata Kamalul.
Aipda Yudhi gugur ketika mengikuti operasi pemberantasan narkoba di pedalaman Katingan. Insiden tersebut terjadi setelah aparat melakukan penindakan terhadap terduga pelaku narkotika yang kemudian memicu perlawanan. Peristiwa itu menjadi salah satu tragedi paling menyita perhatian dalam upaya pemberantasan narkoba di Kalimantan Tengah dan mendapat perhatian serius dari jajaran Polri.
Pengabdian Aipda Yudhi selama sekitar 15 tahun di bidang pemberantasan narkoba menjadi bukti besarnya komitmen dalam memerangi peredaran narkotika di Kabupaten Katingan. Rekan-rekan sejawat mengenangnya sebagai polisi yang bekerja tanpa mengenal lelah, menjunjung tinggi integritas, dan tetap mengabdi hingga akhir hayatnya. Kisah perjuangannya menjadi pengingat bahwa pemberantasan narkoba masih menyimpan risiko besar bagi aparat yang berada di garis depan penegakan hukum.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









