Gunung Mas – Di balik rimbunnya hutan Kalimantan Tengah, berdiri sebuah tebing batu yang seolah menunjuk ke langit. Kabut tipis kerap menyelimuti puncaknya pada pagi hari, sementara suara burung dan desir angin menjadi satu-satunya teman bagi mereka yang berani mendekat. Warga setempat menyebutnya Puruk Sandukui—sebuah bukit batu yang tak hanya memikat mata, tetapi juga menyimpan cerita turun-temurun.
Bagi para pendaki, nama Puruk Sandukui identik dengan tantangan. Jalur menuju puncaknya bahkan dijuluki “Jalur Janda” karena tingkat kesulitannya yang ekstrem. Namun, di balik reputasi itu, Puruk Sandukui menyimpan nilai budaya, geologi, dan sejarah lokal yang membuatnya lebih dari sekadar destinasi petualangan.
Puruk Sandukui berada di Desa Harowu, Kecamatan Miri Manasa, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Tebing ini menjulang sekitar 1.023 meter di atas permukaan laut dengan formasi batuan andesit yang membentuk siluet menyerupai jari telunjuk. Bentuk itulah yang menjadikannya mudah dikenali dan berbeda dari pegunungan lain di Kalimantan.
Masyarakat Dayak Ot Danum yang mendiami kawasan tersebut mewariskan sebuah legenda. Konon, Puruk Sandukui berarti “Tebing Tambatan” dan dipercaya sebagai tempat kapal Nabi Nuh pernah ditambatkan setelah banjir besar. Kisah ini hidup sebagai tradisi lisan yang terus diceritakan dari generasi ke generasi, meski tidak memiliki bukti sejarah yang dapat diverifikasi.
“Legenda itu merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat. Nilainya bukan terletak pada benar atau tidaknya secara ilmiah, melainkan bagaimana cerita itu menjaga hubungan masyarakat dengan alam,” demikian penjelasan yang dirangkum dari berbagai keterangan mengenai tradisi lokal.
Puruk Sandukui bukan gunung yang dapat ditaklukkan hanya dengan semangat. Tebing tegaknya menuntut kemampuan panjat tebing serta perlengkapan profesional. Sebagian batuannya kokoh, namun beberapa bagian cukup rapuh sehingga membutuhkan kehati-hatian tinggi.
Nama “Jalur Janda” muncul dari tingkat risiko yang menyertainya. Selama bertahun-tahun hanya sedikit pendaki yang berhasil mencapai puncak. Salah satu pencapaian penting terjadi pada 2017 ketika tim mahasiswa pecinta alam dari Universitas Indonesia berhasil membuka jalur menuju puncak setelah berbagai upaya sebelumnya hanya mampu mencapai ketinggian sekitar 100 meter.
“Puruk Sandukui bukan sekadar lokasi pendakian, tetapi medan yang menuntut kesiapan fisik, teknik, dan penghormatan terhadap alam,” demikian gambaran yang banyak disampaikan komunitas pendaki yang mengenal kawasan tersebut.
Berbeda dengan banyak destinasi populer yang telah dipenuhi fasilitas wisata, Puruk Sandukui masih mempertahankan wajah alaminya. Akses menuju lokasi memerlukan perjalanan panjang dari Palangka Raya, sehingga kawasan ini belum mengalami tekanan pariwisata massal.
Di sekitarnya terdapat sejumlah air terjun dan bentang hutan tropis yang masih relatif lestari. Kondisi tersebut memberi peluang bagi pengembangan wisata berbasis konservasi, bukan sekadar eksploitasi.
Keberadaan Puruk Sandukui juga menjadi pengingat bahwa Kalimantan tidak hanya kaya akan hutan hujan, tetapi juga menyimpan bentang geologi unik yang berpadu dengan kearifan masyarakat adat. Di tengah meningkatnya minat wisata alam, tantangan terbesarnya justru bagaimana memperkenalkan tempat ini tanpa menghilangkan nilai budaya dan kelestarian lingkungannya.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








