Nilai Huma Betang Perkuat Toleransi dan Tekan Radikalisme di Kalteng

oleh
Huma Betang dinilai menjadi modal sosial efektif mencegah radikalisme di Kalimantan Tengah melalui penguatan toleransi, persatuan, dan nilai kebangsaan.

Palangka Raya – Falsafah Huma Betang kembali ditegaskan sebagai modal sosial yang efektif dalam mencegah berkembangnya paham radikalisme di Kalimantan Tengah. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Dayak ini dinilai mampu memperkuat toleransi, menjaga persatuan, sekaligus menjadi fondasi kehidupan masyarakat yang hidup dalam keberagaman.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Tengah, Prof. Khairil Anwar, M.Ag., menyebut filosofi Huma Betang bukan sekadar simbol budaya, melainkan pedoman hidup yang relevan dalam menghadapi tantangan sosial, termasuk ancaman radikalisme yang terus berkembang.

Menurut Khairil, Huma Betang mengajarkan masyarakat untuk hidup berdampingan dalam satu “rumah besar” meski berbeda latar belakang agama, suku, budaya, maupun pandangan. Nilai saling menghormati, kebersamaan, serta musyawarah menjadi kekuatan utama dalam menjaga harmoni sosial di Bumi Tambun Bungai.

Huma Betang mengajarkan kita hidup bersama dalam keberagaman dengan saling menghormati, mengedepankan kebersamaan, dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah,” ujar Khairil.

Ia menilai nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, serta ajaran agama yang menjunjung tinggi persaudaraan kemanusiaan. Karena itu, penguatan nilai Huma Betang dinilai penting sebagai benteng moral dalam menghadapi berbagai ideologi yang berpotensi memecah belah bangsa.

Khairil juga mengingatkan bahwa ancaman radikalisme kini tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Penyebarannya semakin masif melalui ruang digital, terutama media sosial, sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi digital yang baik untuk menyaring informasi.

Pancasila menjadi titik temu seluruh elemen bangsa. Ketuhanan Yang Maha Esa menjamin kebebasan beragama, sementara Huma Betang mengajarkan bagaimana perbedaan itu dirawat menjadi kekuatan,” katanya.

Ia menambahkan, upaya pencegahan radikalisme tidak bisa hanya mengandalkan aparat keamanan. Peran aktif seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan, mulai dari keluarga, tokoh agama, tokoh adat, dunia pendidikan, hingga pemerintah daerah.

Upaya tersebut menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data terbaru, Provinsi Kalimantan Tengah berhasil menurunkan Indeks Potensi Radikalisme (IPR) pada tahun 2025 menjadi 10,3, lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 10,7. Penurunan ini menjadi indikator bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal, termasuk penguatan nilai Huma Betang, mulai memberikan dampak nyata dalam menjaga stabilitas sosial.

Dalam pandangannya, penguatan karakter kebangsaan harus terus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, dialog lintas agama, serta pelestarian budaya lokal. Dengan demikian, masyarakat memiliki ketahanan terhadap berbagai narasi provokatif yang mengarah pada intoleransi maupun ekstremisme.

Filosofi Huma Betang sendiri telah lama menjadi identitas masyarakat Kalimantan Tengah. Nilai hidup bersama dalam keberagaman terbukti mampu menjaga hubungan harmonis antarsuku, agama, dan kelompok masyarakat selama bertahun-tahun.

Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya tantangan sosial di era digital, pendekatan berbasis kearifan lokal dinilai menjadi strategi efektif dalam memperkuat persatuan bangsa. Nilai budaya yang tumbuh dari masyarakat diyakini lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

banner 336x280

Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.