Aroma kemenyan perlahan menyatu dengan udara pagi. Di tepi Sungai Kahayan, suara gong dan lantunan doa adat terdengar bersahutan. Warga berdatangan mengenakan pakaian adat terbaik mereka. Sebagian membawa sesajen, sebagian lagi berdiri khidmat mengikuti jalannya ritual yang telah diwariskan selama bergenerasi.
Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, momen itu bukan sekadar upacara adat. Mereka menyebutnya Mamapas Lewu, sebuah ritual penyucian kampung yang diyakini mampu membersihkan wilayah dari energi negatif, penyakit, bencana, serta berbagai hal buruk yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
Tradisi ini bukan hanya menjadi bagian dari kepercayaan Kaharingan, tetapi juga cerminan hubungan erat antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang terus dijaga hingga hari ini.
Ikhtiar Kolektif Menjaga Keharmonisan
Dalam bahasa Dayak Ngaju, kata mamapas berarti membersihkan, sedangkan lewu berarti kampung atau wilayah tempat tinggal. Secara sederhana, Mamapas Lewu dapat dimaknai sebagai upacara membersihkan kampung secara spiritual.

Ritual ini biasanya dipimpin oleh tokoh adat atau Basir (pemuka agama Kaharingan). Berbagai perlengkapan adat disiapkan, mulai dari sesajen, hewan kurban, hingga air suci yang digunakan dalam prosesi penyucian.
“Mamapas Lewu bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk doa bersama agar masyarakat dijauhkan dari marabahaya dan diberi kehidupan yang harmonis,” ujar sejumlah tokoh adat Kaharingan dalam berbagai dokumentasi budaya Kalimantan Tengah.
Prosesi tersebut umumnya melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tidak ada sekat usia maupun status sosial. Semua warga menjadi bagian dari upaya bersama menjaga keseimbangan kehidupan.
Hubungan Manusia dan Alam
Di balik rangkaian ritualnya, Mamapas Lewu menyimpan pesan yang lebih dalam. Tradisi ini mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam sekitarnya.
Masyarakat Dayak percaya bahwa kerusakan hubungan dengan alam dapat memicu berbagai ketidakseimbangan dalam kehidupan. Karena itu, ritual ini menjadi pengingat agar manusia tetap menjaga sungai, hutan, dan lingkungan tempat mereka hidup.
“Keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat Dayak,” ungkap budayawan Kalimantan Tengah yang kerap meneliti tradisi Kaharingan.
Nilai tersebut membuat Mamapas Lewu tetap relevan meski zaman terus berubah. Di tengah perkembangan teknologi dan urbanisasi, pesan tentang menjaga harmoni lingkungan justru terasa semakin dekat dengan kehidupan modern.
Tradisi yang Terus Bertahan
Saat ini, Mamapas Lewu masih rutin dilaksanakan di berbagai wilayah Kalimantan Tengah, terutama pada momentum tertentu yang dianggap penting bagi masyarakat adat.
Bagi generasi muda, ritual ini menjadi ruang belajar tentang identitas budaya yang diwariskan leluhur. Sementara bagi masyarakat luas, Mamapas Lewu menawarkan pemahaman bahwa sebuah komunitas dapat menjaga kebersamaan melalui tradisi yang hidup dan bermakna.
Ketika gong terakhir berhenti berdentang dan doa-doa selesai dipanjatkan, yang tersisa bukan hanya keyakinan bahwa kampung telah dibersihkan dari bala. Ada juga harapan yang terus diwariskan: bahwa manusia akan selalu menemukan cara untuk merawat tempat yang mereka sebut rumah.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







