Kuala Kurun – Suara sorak penonton sesekali pecah di tengah lapangan. Sebuah logo “cakram kecil khas permainan tradisional Dayak“meluncur cepat menyusuri lintasan tanah. Para peserta berdiri tegang, mengamati arah gerakannya. Di sudut lain, anak-anak dan orang tua berbaur, menikmati pertandingan yang bukan sekadar lomba, melainkan perayaan warisan budaya.
Suasana itulah yang mewarnai Lomba Balogo dalam rangka Festival Budaya Mihing Manasa (FBMM) 2026 di Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas. Di tengah derasnya arus permainan modern dan hiburan digital, balogo kembali menjadi pusat perhatian masyarakat.
Ajang yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-24 Kabupaten Gunung Mas itu berhasil melahirkan para juara. Kontingen Kecamatan Kurun dan Kecamatan Miri Manasa tampil gemilang dengan meraih gelar juara pada kategori yang dipertandingkan. Festival ini menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Gunung Mas yang melibatkan seluruh kecamatan.
Balogo merupakan permainan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat Dayak di Kalimantan. Permainan ini menggunakan logo atau kepingan berbentuk bulat yang didorong dengan alat khusus untuk mengenai sasaran.
Meski terlihat sederhana, balogo membutuhkan ketelitian, strategi, dan ketenangan. Tak heran jika permainan ini dahulu menjadi hiburan sekaligus sarana mempererat hubungan sosial di kampung-kampung.
“Balogo bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana kita menjaga identitas budaya agar tetap dikenal generasi muda,” ujar salah satu panitia penyelenggara dalam kegiatan tersebut.
Festival Budaya Mihing Manasa telah menjadi agenda tahunan yang dinantikan masyarakat Gunung Mas. Tahun ini, FBMM mempertandingkan berbagai cabang budaya tradisional seperti habayang, manjawet, manyipet, karungut hingga balogo.
Bupati Gunung Mas sebelumnya juga menegaskan bahwa festival ini merupakan wadah untuk menampilkan kekayaan seni dan tradisi masyarakat Dayak kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Semangat yang terlihat di arena pertandingan menunjukkan bahwa budaya tidak hanya hidup di museum atau buku sejarah. Ia hidup melalui orang-orang yang memainkannya, merawatnya, dan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di era ketika sebagian besar anak muda lebih akrab dengan layar ponsel dibanding permainan tradisional, kehadiran lomba balogo memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar kompetisi.
“Melalui festival seperti ini, kami berharap budaya lokal tetap dikenal dan dicintai masyarakat,” kata panitia.
Ketika logo terakhir meluncur dan para juara diumumkan, yang tersisa bukan hanya catatan kemenangan Kecamatan Kurun dan Miri Manasa. Ada pesan yang lebih panjang dari sekadar hasil lomba: tradisi akan tetap hidup selama masih ada ruang untuk memainkannya, menceritakannya, dan merayakannya bersama.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












