Palangka Raya – Kedatangan jenazah Aipda Yudhi Perdana Putra dan Teriyo di Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya menjadi momen yang menyisakan duka mendalam. Isak tangis keluarga mengiringi proses penurunan jenazah dari ambulans, menggambarkan kehilangan besar atas peristiwa tragis yang merenggut nyawa keduanya.
Suasana haru menyelimuti halaman rumah sakit ketika keluarga, kerabat, dan rekan-rekan almarhum menunggu dengan penuh kecemasan. Begitu pintu ambulans dibuka, tangisan tak lagi terbendung. Ibu Aipda Yudhi tampak histeris, sementara sang ayah hanya mampu berdiri lemas menatap peti jenazah putranya.
Paman almarhum, Labih (51), mengungkapkan bahwa pihak keluarga awalnya mengetahui kabar duka tersebut melalui pesan yang beredar di grup WhatsApp. Tak lama kemudian, keluarga mendapat konfirmasi dari rekan-rekan almarhum bahwa Aipda Yudhi gugur saat menjalankan operasi pemberantasan narkoba di Kecamatan Katingan Tengah.
Momen tersebut menjadi gambaran nyata betapa berat cobaan yang harus dihadapi keluarga korban. Di tengah kesibukan petugas yang mengevakuasi jenazah ke ruang penanganan, suasana duka begitu terasa. Sejumlah anggota kepolisian turut memberikan penghormatan terakhir kepada rekan mereka yang gugur saat menjalankan tugas.
Kesedihan keluarga tidak hanya dirasakan oleh kerabat dekat, tetapi juga para sahabat dan anggota kepolisian yang hadir. Mereka saling menguatkan di tengah suasana yang penuh haru.
Seorang anggota keluarga yang mendampingi proses kedatangan jenazah menyampaikan, “Kami berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga diberi kekuatan menghadapi cobaan ini.”
Di lokasi yang sama, salah seorang rekan almarhum juga mengungkapkan rasa kehilangan mendalam.
“Beliau adalah sosok yang baik, berdedikasi, dan selalu mengutamakan tugas. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi kami semua,” ujarnya.
Petugas Rumah Sakit Bhayangkara kemudian melanjutkan prosedur penanganan jenazah sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan sesuai rencana.
Peristiwa ini kembali mengingatkan besarnya risiko yang dihadapi aparat dalam menjalankan tugas negara. Di balik seragam dan tanggung jawab yang diemban, ada keluarga yang menanti kepulangan mereka setiap hari.
Kepergian Aipda Yudhi Perdana Putra dan Teriyo tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan-rekan serta masyarakat yang mengikuti perkembangan peristiwa tersebut. Doa dan penghormatan terus mengalir sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dan perjalanan hidup keduanya.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








