Palangka Raya – Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah terus mengembangkan penyelidikan kasus penyerangan terhadap personel Polri saat operasi pemberantasan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan. Selain memburu para pelaku yang terlibat dalam penyerangan, polisi juga membidik seluruh aktor intelektual, provokator, hingga eksekutor lapangan yang diduga menjadi bagian dari jaringan peredaran narkotika.
Fakta terbaru mengungkap bahwa salah satu target operasi merupakan seorang perempuan yang diduga berperan sebagai bandar sabu. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa jaringan narkoba di wilayah tersebut telah memiliki sistem yang terorganisasi.
Kapolda Kalimantan Tengah, Irjen Pol Iwan Kurniawan, menjelaskan operasi penindakan telah dirancang sesuai prosedur, termasuk dengan melibatkan personel polisi wanita (Polwan) karena salah satu target yang akan diamankan adalah seorang perempuan.
“Ada anggota Polwan yang dilibatkan, karena tahu bahwa akan ada terduga pelaku narkoba atau bandar narkoba ini yang adalah seorang perempuan. Nah, itu disiapkan di satu titik,” ujar Iwan dalam konferensi pers di Mapolda Kalteng, Selasa (7/7).
Menurutnya, tim gabungan berhasil memasuki lokasi dan menjalankan tahapan awal penindakan sesuai standar operasional. Petugas bahkan telah memperkenalkan diri sebagai aparat kepolisian sekaligus menunjukkan surat tugas sebelum melakukan tindakan hukum.
“Ketika dia memperkenalkan ‘saya adalah polisi, kami adalah polisi, ini operasi kepolisian’, tunjukkan suratnya, lah itu yang betul,” tegas Kapolda.
Namun situasi berubah drastis setelah salah seorang anggota keluarga target meneriakkan kata “perampok“. Teriakan tersebut memicu kepanikan warga sekitar yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan penghuni rumah yang menjadi sasaran operasi.
Dalam waktu singkat, massa berdatangan dan mengepung aparat menggunakan berbagai senjata tajam. Kondisi yang semula terkendali berubah menjadi ricuh hingga membahayakan keselamatan personel di lapangan.
“Cuma reaksi dari masyarakatnya ya. Salah satu anggota keluarga itu meneriaki perampok, dan kebetulan rumah yang disasar sama rumah sebelahnya itu kan masih saudaraan. Makanya jadi chaos situasinya,” ungkap Iwan.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, personel kepolisian memilih mundur demi menghindari jatuhnya korban dari kalangan masyarakat.
“Pertimbangannya khawatir akan menimbulkan permasalahan ke depan ada korban, terutama kita menghindari jangan sampai ada warga masyarakatnya menjadi korban,” jelasnya.
Dalam proses penyelamatan diri, sebagian anggota terpaksa melompat ke sungai. Namun nahas, tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan menjadi korban setelah diduga dianiaya oleh kelompok pelaku.
Kapolda mengungkapkan hasil penyelidikan sementara menunjukkan ketiga anggota tidak meninggal akibat tenggelam, melainkan lebih dahulu mengalami kekerasan fisik.
“Jadi ini disiksa dulu ya, kalau bahasa kami kayak begitu. Baru meninggal baru dilempar ke sungai. Jadi bukan orang meninggal karena berenang,” tegasnya.
Hingga kini, Polda Kalimantan Tengah masih memburu seluruh pihak yang diduga terlibat, baik sebagai provokator, pelaku utama, maupun jaringan yang berada di balik peredaran narkoba tersebut. Tiga tersangka berinisial R, N, dan S alias A telah diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Kapolda memastikan penegakan hukum akan terus dilakukan tanpa kompromi terhadap jaringan narkotika yang telah mengakibatkan gugurnya tiga anggota Polri.
“Tidak ada sedikit pun kepolisian yang ada di Kalimantan Tengah ini untuk mundur terhadap para pelaku,” pungkasnya.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









