PALANGKA RAYA – Persaingan menuju kursi Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030 semakin menarik. Salah satu bakal calon rektor, Prof. Bhayu Rhama, mencatatkan keunggulan pada berbagai indikator publikasi ilmiah berbasis Scopus berdasarkan data Science and Technology Index (SINTA). Capaian tersebut menjadi modal akademik yang memperkuat posisinya dalam kontestasi pemilihan pimpinan perguruan tinggi terbesar di Kalimantan Tengah.
Berdasarkan data SINTA, Prof. Bhayu berada di posisi teratas dibandingkan tiga bakal calon rektor lainnya pada sejumlah indikator penting, mulai dari jumlah publikasi internasional terindeks Scopus, H-Index, hingga jumlah sitasi. Indikator tersebut selama ini menjadi salah satu tolok ukur reputasi akademik seorang dosen maupun peneliti di lingkungan pendidikan tinggi.
Keunggulan tersebut dinilai mencerminkan konsistensi Prof. Bhayu dalam membangun budaya riset dan publikasi ilmiah yang berdaya saing internasional. Rekam jejak akademik itu juga menjadi perhatian civitas akademika yang menginginkan UPR semakin kompetitif di tingkat nasional maupun global.
Dalam berbagai kesempatan sosialisasi calon rektor, Prof. Bhayu menegaskan bahwa peningkatan kualitas penelitian dan publikasi merupakan bagian penting dari transformasi kampus.
“Setiap fakultas memiliki tantangan yang berbeda-beda. Dari sosialisasi ini kami bisa melihat langsung kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi,” ujar Prof. Bhayu saat berdialog dengan civitas akademika.
Ia menambahkan, seluruh masukan dari fakultas akan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan apabila dipercaya memimpin UPR.
“Kami akan memetakan secara lebih detail kebutuhan masing-masing fakultas, kemudian menyusun langkah yang sesuai dengan karakter dan tantangan di setiap unit,” katanya.
Selain rekam jejak publikasi ilmiah, Prof. Bhayu juga dikenal memiliki pengalaman memimpin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR. Selama menjabat dekan, ia mendorong peningkatan kualitas akreditasi program studi, pengembangan program magister baru, hingga perbaikan sarana dan prasarana pembelajaran sebagai bagian dari penguatan mutu pendidikan tinggi.
Dalam pencalonannya sebagai Rektor UPR, Prof. Bhayu mengusung visi “Borneo Impact and Global Recognition”, yakni menjadikan Universitas Palangka Raya sebagai perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi Kalimantan sekaligus memiliki pengakuan di tingkat internasional.
Tahapan pemilihan Rektor UPR sendiri telah memasuki fase sosialisasi setelah empat bakal calon dinyatakan lolos verifikasi administrasi oleh panitia pemilihan. Selanjutnya, para kandidat akan mengikuti rangkaian proses sesuai jadwal yang telah ditetapkan Senat UPR sebelum penetapan rektor terpilih periode 2026–2030.
Keunggulan Prof. Bhayu pada indikator Scopus menjadi salah satu aspek yang memperkuat daya saingnya dalam bursa pemilihan. Di tengah tuntutan peningkatan reputasi perguruan tinggi, rekam jejak publikasi ilmiah, produktivitas riset, dan pengalaman kepemimpinan dipandang sebagai kombinasi penting untuk membawa UPR semakin berprestasi dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasasional.
Eksplorasi konten lain dari Jurnalkalteng
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








