Air Tak Mengalir, Pasar Terendam: Drainase Parenggean Disorot

oleh
Camat Parenggean, Muhammad Jais, menegaskan sumber masalah bukan luapan sungai, melainkan aliran air yang terhambat di saluran.

Kotawaringin Timur — Banjir kembali melumpuhkan aktivitas di Pasar Parenggean. Hujan beberapa jam saja cukup untuk memicu genangan hingga ±20 cm—indikasi jelas sistem drainase tidak bekerja.

Camat Parenggean, Muhammad Jais, menegaskan sumber masalah bukan luapan sungai, melainkan aliran air yang terhambat di saluran.

“Air hujan tertahan karena drainase tidak lancar, sehingga mudah tergenang.”

Topografi memperparah situasi: pasar berada di titik rendah, menerima limpasan dari kawasan perbukitan. Namun air tidak terbuang karena saluran tersumbat—oleh sedimen, material jalan, dan praktik penutupan drainase oleh pedagang.

“Masih ada yang menutup saluran dengan papan. Ini menghambat aliran dan pembersihan.”

Artinya, persoalan bukan semata teknis, tetapi juga kepatuhan. Pembersihan rutin tak efektif jika perilaku yang sama terus berulang. Dampaknya langsung: aktivitas jual-beli terganggu, risiko kerusakan barang meningkat, dan biaya ekonomi pedagang naik.

Pemerintah kecamatan menyiapkan langkah korektif—dari normalisasi saluran hingga penegakan aturan berbasis kesepakatan lokal.

“Akan dibuat kesepakatan agar semua patuh menjaga drainase.”

Kasus Parenggean menunjukkan kegagalan ganda: infrastruktur yang tidak terpelihara dan disiplin kolektif yang lemah. Tanpa penertiban tegas dan pengawasan konsisten, banjir akan terus menjadi siklus rutin setiap musim hujan.

banner 336x280