PALANGKA RAYA – Proyek pembuatan Film Kolosal Dayak bukan sekadar karya industri kreatif, melainkan sebuah gerakan strategis untuk menyelamatkan dan mendokumentasikan kekayaan budaya yang selama ini hanya hidup dalam tradisi lisan. Hal ini menjadi perhatian serius para tokoh masyarakat, termasuk dari kalangan anak muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian warisan leluhur.
Yanto Eko Saputra, tokoh muda Dayak asal Kalimantan Tengah yang juga menjabat sebagai Direktur Utama media online jurnalkalteng.co.id dan dikenal sebagai Pendiri Aliansi Masyarakat Adat Kalimantan Tengah (AMAK), menilai bahwa langkah pembuatan film ini sangat tepat dan mendesak di era modern ini.

Baginya, sejarah panjang peradaban Borneo, kisah kejayaan kerajaan, hingga kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun, tidak boleh hanya berhenti menjadi cerita di balai adat atau percakapan para tetua.
“Film Kolosal Dayak ini adalah upaya strategis untuk mendokumentasikan identitas suku Dayak yang selama ini hidup dalam tradisi lisan. Ini adalah momen emas untuk mentransfer nilai-nilai sejarah tersebut ke dalam bentuk visual yang nyata, abadi, dan bisa dinikmati oleh generasi sekarang maupun masa depan,” tegas Yanto Eko Saputra.
Sebagai pendiri AMAK, Yanto memiliki latar belakang yang kuat dalam perjuangan dan pengembangan hak serta budaya masyarakat adat. Ia menekankan bahwa kekayaan budaya Dayak yang luar biasa selama ini lebih banyak tersimpan dalam ingatan dan cerita lisan, sehingga sangat rentan hilang atau terdistorsi seiring berjalannya waktu.
Film yang diproduseri eksekutif oleh Panglima Jilah ini akan mengangkat materi cerita yang sangat luas dan mendalam. Mulai dari masa kejayaan kerajaan-kerajaan legendaris seperti Nansarunai, tradisi Ngayau, interaksi dengan suku besar lain seperti Kutai dan Banjar, hingga jejak hubungan dengan peradaban luar seperti Majapahit.

“Selama ini kita kaya akan cerita, tapi minim dalam dokumentasi visual. Lewat film ini, identitas kita akan terekam dengan jelas, sehingga tidak lagi mudah hilang atau tergerus oleh waktu,” tambah Yanto.
Dengan pendekatan fiksi sejarah yang dikemas secara kontemporer, film ini diharapkan mampu menjawab tantangan zaman, di mana visualisasi menjadi bahasa universal yang mudah dipahami, tidak hanya oleh masyarakat Kalimantan, tetapi juga dunia internasional.
Keterlibatan Yanto Eko Saputra dalam tim produksi, sekaligus membawa semangat dari Aliansi Masyarakat Adat Kalimantan Tengah (AMAK), menjadi simbol kuatnya sinergi antarwilayah dan kepedulian terhadap hak ulayat serta budaya.
Proyek ini memang dirancang inklusif, melibatkan elemen dari seluruh provinsi di Kalimantan, hingga lintas negara seperti Sarawak dan Sabah, untuk menyatukan beragam sub-suku dalam satu narasi besar yang membanggakan.
Film ini diproyeksikan bukan hanya menjadi tontonan, melainkan bukti nyata cinta tanah air dan upaya nyata menjaga marwah budaya agar tetap hidup selamanya.







