PALANGKA RAYA – Di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, tradisi Manyanggar tetap dijalankan sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat Dayak. Ritual ini menjadi penanda bahwa aktivitas manusia di alam tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui tata cara adat yang sarat makna.
Manyanggar merupakan praktik keagamaan dalam kepercayaan Kaharingan yang berfungsi sebagai bentuk “penetralan” atau perlindungan sebelum manusia berinteraksi dengan alam, terutama saat membuka lahan atau memasuki kawasan hutan.

Dalam tradisi ini, masyarakat meyakini bahwa alam memiliki penghuni lain yang harus dihormati. Karena itu, ritual dilakukan sebagai bentuk komunikasi simbolik agar tidak terjadi gangguan atau bencana.
“Manyanggar dimaknai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, sekaligus bentuk penghormatan terhadap kekuatan yang tidak terlihat,” sebagaimana dijelaskan dalam kajian budaya Dayak.
Prosesi biasanya dipimpin oleh tokoh adat dengan rangkaian sesajen yang ditempatkan di lokasi tertentu. Elemen seperti makanan tradisional, darah hewan, dan simbol adat menjadi bagian dari ritual yang diyakini memiliki kekuatan spiritual.
Lebih jauh, Manyanggar tidak hanya berfungsi secara religius, tetapi juga menjadi mekanisme sosial dalam mengatur pemanfaatan alam. Tradisi ini secara tidak langsung mencegah eksploitasi berlebihan, karena setiap aktivitas harus melalui pertimbangan adat.

Di tengah ekspansi industri dan perubahan pola hidup, keberadaan Manyanggar dinilai sebagai bentuk ketahanan budaya. Tradisi ini terus diwariskan lintas generasi sebagai identitas sekaligus panduan etika dalam berinteraksi dengan lingkungan.










