PALANGKA RAYA, 3 Mei 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day) 3 Mei 2026, media memiliki peran vital tidak hanya sebagai penyampai berita terkini, tetapi juga sebagai penjaga memori kolektif bangsa. Melalui tulisan ini, kita diajak kembali menengok lembaran sejarah heroik yang melahirkan Provinsi Kalimantan Tengah, sebuah wilayah yang bukan hadiah semata, melainkan hasil perjuangan darah dan air mata para leluhur.
Nama Kristianto Diun Tunjang atau yang akrab disapa Deden hadir sebagai saksi hidup dan penerus garis keturunan yang berjuang agar nama-nama pahlawan lokal tidak terlupakan. Ia adalah putra dari Diun Tunjang, salah satu tokoh pejuang yang namanya tercatat dalam sejarah perjuangan pemisahan Kalimantan Tengah dari Kalimantan Selatan pada masa lalu.

Sejarah mencatat dengan tinta emas peristiwa tahun 1956 hingga 1957. Pada masa itu, di bawah kepemimpinan tokoh besar seperti Cristian Simbar /Uria Mapas/Madolin terbentuklah pasukan pejuang yang dikenal dengan nama Gerakan Mandau Talawang Pancasila (GMTPS).
Mereka adalah segelintir putra terbaik bangsa yang rela mengorbankan nyawa dan harta demi satu cita-cita mulia: berdirinya pemerintahan sendiri di tanah Dayak. Perjuangan ini bukan sekedar soal politik, melainkan soal harga diri, martabat, dan hak mengatur rumah tangga sendiri.
Diun Tunjang, ayahanda dari Kristianto, tercatat sebagai nomor urut 17 dari Markas Sektor B Kahayan. Beliau berasal dari Desa Sepang Simin, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas. Bersama kawan-kawan seperjuangan, Diun Tunjang turut andil dalam meletakkan batu pertama fondasi berdirinya Kota Palangka Raya serta memperjuangkan pengakuan wilayah Kalimantan Tengah sebagai provinsi yang merdeka dan berdaulat.

“Kita sebagai anak cucu, penerus, simpatisan, dan generasi muda pewaris Kalteng, jangan pernah melupakan pelaku sejarah. Kalteng ini bukan pemberian atau hadiah dari pusat, tapi diperjuangkan dengan penuh darah dan air mata,” tegas Deden dengan nada tegas dan penuh penghormatan, Senin (3/5/2026).
Tidak hanya menjaga kenangan secara lisan dan tulisan, Kristianto Diun Tunjang kini turut mengambil peran nyata dalam pelestarian budaya dan sejarah. Ia tergabung secara aktif dalam tim produksi pembuatan Film Dayak Kolosal yang saat ini sedang digarap oleh Tokoh Tokoh Pelestari Budaya, Pengiat Seni dan Budaya Dayak dan juga didukung oleh Kepala Daerah, tokoh masyarakat, organisasi lokal dan Paguyuban,Tokoh Pemuda dan masyarakat dari setiap provinsi yang ada di pulau Kalimantan (Borneo)
Sebagai Ketua Umum DPP Organisasi Betang Mandau Talawang Kalimantan Tengah, Deden melihat film sebagai media yang sangat powerful untuk menyampaikan pesan sejarah kepada generasi millenial dan Gen Z.
Dia juga mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, siapa saja yang ingin membantu dan mendukung pembuatan film Dayak Kolosal, baik itu sumbangan ide dan pemikiran.
“Saya sangat mendukung upaya Tokoh Tokoh Pelestari Budaya,Pengiat Seni Adat Budaya Dayak yang sedang membuat film kolosal . Melalui film, kisah kepahlawanan leluhur, keberanian, dan kearifan lokal budaya Dayak bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Ia berharap, film yang diproduksi ini nantinya tidak hanya tayang di tingkat lokal, tetapi mampu menembus kancah nasional hingga internasional. “Budaya Dayak itu kaya dan luar biasa. Dunia harus tahu bahwa Kita Dayak punya sejarah besar, punya adat yang luhur, dan punya jati diri yang kuat,” tambahnya.
Bagi Deden, sejarah bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dijadikan motivasi. Ia menginginkan generasi muda, khususnya keturunan Dayak, agar tidak minder dan tidak takut untuk berkarya.
“Jangan takut berekspresi dalam membangun daerahmu. Lihatlah para pendahulu, mereka berjuang dengan keterbatasan demi masa depan kita. Masa kini kita sudah diberi kemudahan, maka tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan karya nyata yang membanggakan,” pesannya.
Film ini diharapkan menjadi inspirasi bahwa menjadi orang Dayak adalah sebuah kebanggaan. Bahwa budaya kita layak dihargai, dan potensi anak daerah setara dengan siapa saja di dunia ini.
Mengakhiri catatannya, Kristianto Diun Tunjang menyampaikan pesan bijak yang menjadi semangat hidupnya:
“Ela Mikeh Dalam Berkarya Untuk Daerahmu, Tanah Dayak.”
(Artinya: Teruslah Berkarya Untuk Daerahmu, Tanah Dayak)
Pesan ini menjadi pengingat abadi bagi kita semua. Sejarah telah ditulis oleh para pendahulu dengan darah dan keringat. Kini giliran kita, generasi penerus, untuk menulis babak baru dengan karya, prestasi, dan kontribusi nyata demi memajukan Bumi Tambun Bungai tercinta.
Selamat Hari Pers Sedunia 2026. Mari terus sebarkan kebenaran dan lestarikan sejarah. (Red/ig)











