Panglima Wangkang, Panglima Bakumpai yang Gugur Melawan Belanda

oleh
Panglima Wangkang - Ilustrasi

Sosok Panglima Wangkang kembali menjadi sorotan sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan rakyat Kalimantan terhadap penjajahan Belanda. Tokoh yang dikenal dengan gelar Kiai Mas Demang bin Pambakal Kendet ini merupakan panglima perang dari suku Bakumpai yang memainkan peran strategis dalam Perang Banjar.

Lahir di Marabahan sekitar tahun 1812, Panglima Wangkang dikenal sebagai pemimpin lokal yang gigih mempertahankan wilayah Bakumpai (kini Barito Kuala) dari tekanan kolonial. Ia tidak hanya memimpin perlawanan, tetapi juga menjadi simbol perlawanan rakyat Dayak dan Banjar terhadap dominasi Belanda.

Dalam catatan sejarah, Panglima Wangkang pernah menghimpun sekitar 500 pasukan untuk menyerang Banjarmasin pada 1870. Namun, kekuatan militer Belanda yang lebih besar memaksa pasukannya mundur dan melanjutkan perlawanan dari wilayah Sungai Durrakhman.

“Ia bersama pengikutnya sekitar 500 orang menyerang Banjarmasin,” demikian tercatat dalam sejarah perlawanan di wilayah Bakumpai.

Perjuangan Panglima Wangkang berakhir dalam pertempuran sengit melawan pasukan Belanda. Dalam salah satu pertempuran besar, ia gugur setelah benteng pertahanannya diserang pasukan kolonial yang lebih kuat.

“Dalam pertempuran itu Demang Wangkang menemui ajalnya,” tulis sumber sejarah mengenai akhir perjuangannya.

Sejarah mencatat, Panglima Wangkang bukan sekadar tokoh lokal, melainkan bagian dari jaringan perlawanan yang lebih luas dalam Perang Banjar. Kiprahnya menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak hanya datang dari pusat kekuasaan, tetapi juga dari daerah-daerah yang dipimpin tokoh-tokoh lokal yang kuat.

Warisan perjuangan Panglima Wangkang menjadi pengingat bahwa sejarah Kalimantan dibentuk oleh keberanian tokoh-tokoh daerah yang mempertahankan wilayah dan identitasnya, bahkan hingga titik pengorbanan terakhir.

banner 336x280