Tokoh pejuang Kalimantan, Tumenggung Surapati, kembali mendapat perhatian sebagai salah satu pemimpin perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda dalam Perang Banjar (1859–1905). Ia dikenal sebagai kepala suku Dayak Bakumpai-Siang yang berdiri di barisan Pangeran Antasari dalam perjuangan melawan penjajahan.
Dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda, Tumenggung Surapati juga tercatat sebagai pemimpin wilayah (hoofd) di kawasan Dusun Hulu, Murung, dan Siang. Namun perannya melampaui jabatan administratif—ia tampil sebagai panglima perang dalam konflik bersenjata yang meluas di wilayah Barito sejak pecahnya perang pada 1859.

“Ia menjadi panglima perang dalam Perang Barito yang merupakan bagian dari Perang Banjar.”
Kesetiaannya kepada Pangeran Antasari menjadikan Tumenggung Surapati bagian penting dari jaringan perlawanan lokal yang terorganisir sepanjang periode perang, terutama dalam mempertahankan wilayah pedalaman Kalimantan dari ekspansi militer Belanda.
Perlawanan yang berlangsung selama puluhan tahun ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya terpusat di wilayah pesisir, tetapi juga meluas ke pedalaman melalui peran tokoh-tokoh lokal seperti Tumenggung Surapati.
Kiprah Tumenggung Surapati dalam rentang 1859–1905 menegaskan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme di Kalimantan merupakan perjuangan panjang lintas generasi, dengan kontribusi kuat dari pemimpin-pemimpin Dayak di wilayah pedalaman.











