Fridolin Ukur lahir di Tamiang Layang, Kalimantan Tengah, pada 5 April 1930. Ia berasal dari keluarga pendidik; ayahnya seorang kepala sekolah, yang membentuk dasar intelektual dan kedisiplinan sejak kecil.
Masa kecilnya berlangsung di tengah perubahan sosial akibat kolonialisme dan pendudukan Jepang. Pendidikan awal ditempuh di Banjarmasin, sebelum kembali ke kampung halaman saat situasi perang. Sejak remaja, minat membaca dan kesadaran nasionalisme mulai tumbuh kuat.
Perjalanan hidup Ukur tidak langsung menuju dunia gereja. Ia sempat bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia pada periode 1946–1950 dengan pangkat letnan muda. Namun, ia memilih meninggalkan karier militer demi panggilan spiritual sebagai pendeta.

Keputusan ini menjadi titik balik penting. Ia kemudian menempuh pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, lulus pada 1955, dan ditahbiskan sebagai pendeta pada 1956.
Fridolin Ukur melanjutkan studi hingga ke luar negeri, memperdalam teologi di Universitas Basel, Swiss (1964–1965). Ia meraih gelar doktor pada 1971 melalui disertasi “Tantang Jawab Suku Dayak”, yang mengkaji relasi antara Injil dan budaya Dayak.
Selain sebagai pendeta, ia aktif sebagai akademisi dan organisator. Ia pernah menjadi dosen, rektor akademi teologi, hingga menjabat Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (1984–1989).

Fridolin Ukur dikenal sebagai penyair Angkatan 66. Karya-karyanya banyak dipengaruhi nilai spiritual dan pergulatan sosial. Ia menulis puisi sejak remaja dan aktif di berbagai media, termasuk majalah nasional dan internasional.
Sejumlah karya pentingnya antara lain:
- Malam Sunyi (1960)
- Darah dan Peluh (1961)
- Belas Tercurah (1980)
- Wajah Cinta (2001)
- Tantang Jawab Suku Dayak
Tulisan-tulisannya kerap menyoroti kemanusiaan, kritik sosial, serta pergumulan iman, menjadikannya salah satu suara moral dari Kalimantan dalam sastra Indonesia.
Sebagai tokoh gereja, Ukur dikenal mendorong gereja agar lebih membumi dan dekat dengan masyarakat. Ia menekankan pentingnya keterlibatan gereja dalam persoalan sosial, bukan sekadar ritual keagamaan.
Pemikirannya juga banyak mengangkat dialog antara kekristenan dan budaya lokal Dayak, menjadikannya tokoh penting dalam pengembangan teologi kontekstual di Indonesia.
Fridolin Ukur wafat di Jakarta pada 2003 dalam usia 72 tahun. Hingga akhir hayatnya, ia tetap menulis dan aktif berkarya.
Warisannya tidak hanya berupa karya sastra, tetapi juga pemikiran teologis dan keteladanan hidup sederhana. Ia dikenang sebagai figur yang menjembatani iman, budaya, dan perjuangan sosial—sebuah kombinasi yang jarang dalam sejarah intelektual Indonesia.










