MUARA TEWEH — Tabir kasus pembunuhan brutal di perbatasan Kalimantan Tengah–Kalimantan Timur akhirnya terbuka. Di balik peristiwa yang menewaskan satu keluarga, polisi menemukan rangkaian konflik lama, akumulasi emosi, dan indikasi aksi yang tidak terjadi secara spontan.
Peristiwa berdarah itu terjadi di kawasan terpencil Desa Benangin, Barito Utara—wilayah yang selama ini dikenal rawan sengketa lahan. Lima korban tewas di lokasi, sementara satu lainnya selamat dengan luka berat. Lokasi kejadian yang jauh dari permukiman memperlambat respons awal, namun juga menguatkan dugaan bahwa korban telah menjadi target.

Hasil penyelidikan mengarah pada konflik yang telah lama membara. Sengketa lahan antara dua kelompok keluarga disebut menjadi akar persoalan, yang kemudian dipicu oleh faktor personal.
“Sebelumnya antara dua kelompok keluarga ini ada sengketa lahan,” ungkap aparat kepolisian.
Ketegangan yang tidak terselesaikan itu diduga mencapai titik puncak setelah insiden yang dianggap menghina pihak tertentu.
“Konflik semakin memanas setelah adanya dugaan penghinaan terhadap orang tua,” jelas polisi.
Dari rangkaian fakta yang dihimpun, penyidik melihat pola yang mengarah pada aksi terencana. Pelaku datang dengan perlengkapan senjata, termasuk senjata tajam jenis mandau. Bahkan, indikasi penggunaan senjata api turut ditemukan di lokasi kejadian—menandakan eskalasi kekerasan yang tidak biasa.

Penangkapan para pelaku dilakukan secara bertahap, termasuk pengejaran lintas provinsi hingga ke wilayah Kalimantan Timur. Polisi memastikan seluruh pelaku kini telah diamankan, menutup ruang pelarian dalam kasus ini.
Namun, pengungkapan ini juga membuka pertanyaan lebih besar: mengapa konflik lahan yang berlarut-larut bisa berkembang menjadi pembantaian.
Di wilayah perbatasan, sengketa tanah kerap terjadi tanpa penyelesaian tuntas. Minimnya kepastian hukum dan lemahnya mediasi menjadi faktor yang berulang muncul dalam berbagai kasus serupa. Dalam konteks ini, tragedi di Benangin bukan sekadar tindak kriminal, melainkan puncak dari konflik struktural yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Polisi menegaskan kasus ini akan diproses hingga tuntas dengan jerat hukum maksimal. Para pelaku terancam pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman berat.










