Nama J.J. Kusni menjadi bagian penting dalam peta sastra Indonesia, khususnya dari Kalimantan. Lahir di Kasongan pada 25 September 1940, ia dikenal sebagai penyair dan penulis yang aktif mengangkat isu sosial, budaya, dan identitas Dayak dalam karya-karyanya.
Selain dikenal dengan nama aslinya, ia juga menggunakan nama lain Kusni Sulang serta nama pena Magusig O. Bungai. Perjalanan intelektualnya ditempa melalui pendidikan di Universitas Gadjah Mada, di mana ia lulus dari jurusan Ilmu Politik pada 1965.

Sebagai sastrawan, J.J. Kusni tidak hanya menulis, tetapi juga terlibat dalam dinamika politik dan kebudayaan. Keterlibatannya di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) serta sikap kritis dalam karya membuatnya masuk dalam daftar cegah dan tangkal pada masa Orde Baru. Situasi itu memaksanya hidup di luar negeri—menjadikannya bagian dari gelombang sastrawan Indonesia dalam pengasingan (eksil).
“Ia masuk daftar cegah dan tangkal… sehingga mengungsi ke luar negeri.”
Di pengasingan, J.J. Kusni tetap produktif dan aktif dalam komunitas intelektual Indonesia di luar negeri. Ia turut mengembangkan ruang diskusi, media, dan karya sastra yang merekam pengalaman eksil sekaligus menjadi kritik terhadap situasi politik Indonesia saat itu.
Biografi Singkat:

- Nama: J.J. Kusni (Kusni Sulang)
- Lahir: 25 September 1940, Kasongan
- Profesi: Penyair, penulis
- Pendidikan: Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (1965)
- Nama pena: Magusig O. Bungai
- Ciri karya: Kritis, berakar pada identitas Dayak dan realitas sosial
- Riwayat penting: Pernah hidup dalam pengasingan akibat tekanan politik
J.J. Kusni bukan sekadar sastrawan daerah, melainkan representasi suara alternatif dalam sejarah Indonesia—suara yang lahir dari pinggiran, namun berbicara lantang tentang identitas, keadilan, dan kebebasan berekspresi.










